Kamis, 23 Agustus 2018

Diksi: Memilih Kata dalam Puisi

Diksi: Memilih Kata dalam Puisi

“Mencari apa yang hendak dipuisikan, lalu mencari cara untuk memuisikannya.”
(Hasan Aspahani)

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, kita tidak bisa terlepas dari kata, dari bahasa. Kita menggunakan kata nyaris setiap saat sepanjang hari, baik dalam bentuk komunikasi lisan maupun tulisan—mulai dari ketika menyapa anggota keluarga di rumah selepas bangun tidur, mengetik pesan singkat di Line atau Whats App, menulis keterangan foto yang kita unggah di Instagram, memesan menu makan siang di warung nasi padang, berbincang dengan orangtua, teman, guru, dosen atau atasan. Di setiap situasi tersebut, kita mesti menyesuaikan, memilah, dan memilih kata apa saja yang hendak kita gunakan—agar  apa yang ingin kita utarakan tersebut dapat tersampaikan dengan baik dan tepat. Proses penyesuaian dan pemilihan kata inilah yang disebut sebagai diksi. Jadi, pada dasarnya diksi atau proses memilih kata itu bukan hanya kita lakukan pada saat menulis puisi saja, melainkan kita lakukan setiap hari.

Kata merupakan media utama dalam menulis puisi, sebagaimana cat dan kanvas yang merupakan media utama dalam melukis. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa proses memilih kata adalah tahap yang amat penting dalam menulis puisi. Lantas yang menjadi pertanyaan adalah: bagaimana cara kita agar dapat memilih kata dengan baik dan tepat sehingga dapat mendukung keindahan, keselarasan, dan keutuhan puisi yang kita tulis?

Tulisan ini saya susun sebagai upaya untuk menjawab pertanyaan tersebut. Sebagian merupakan tips yang bersumber dari pengalaman saya pribadi selama belajar menulis puisi—kegiatan yang sampai sekarang masih saya lakukan. Akan tetapi sebagian besar merupakan tips yang saya kutip dari penulis-penulis hebat yang tentunya secara kemampuan dan pengalaman menulisnya jauh di atas saya yang masih belajar. Berikut ini saya sampaikan tips-tips tersebut.

1. Memburu kata, memperbanyak perbendaharaan kata
Hal utama yang dapat kita lakukan agar dapat memilih kata dengan baik dan tepat adalah memperbanyak perbendaharaan kata. Tidak ada jalan lain. Kalau ingin diksi kita maksimal: kuasailah kata sebanyak-banyaknya. 

Di antara cara yang paling menyenangkan untuk memperbanyak perbendaharaan kata pastinya adalah membaca buku. Kita bisa membaca, menikmati, dan menghayati buku puisi karya penulis favorit kita. Sekedar berbagi pengalaman, saya sering membaca buku puisi yang sama berulang-ulang. Pada proses membaca yang pertama, saya membaca buku puisi tersebut sekedar untuk menikmati dan menghayati isinya saja. Pada proses pembacaan yang kedua dan selanjutnya, saya mulai membaca beberapa judul puisi dalam kumpulan tersebut secara berulang-ulang, menelaah teknik atau jurus apa yang digunakan oleh penulis tersebut dalam membangun keutuhan puisinya. Bukan hanya itu saja, saya juga sering mencatat kata-kata dalam buku puisi tersebut yang menarik hati saya ke dalam buku catatan, untuk kemudian saya olah kembali dan saya gunakan ke dalam puisi yang saya tulis.

Ketika awal belajar menulis puisi, saya pun sering membuat daftar kata dengan menggunakan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Biasanya saya membuka halaman secara acak lalu menulis kata-kata yang menarik hati saya dengan tujuan agar dapat digunakan ketika menulis. Tips membuat daftar atau “bank kata” ini barangkali juga bisa teman-teman lakukan. Kita bisa mencari sumber kata itu bukan hanya dari buku puisi atau kamus saja, tetapi juga bisa dari cerpen, novel, buku sejarah, buku psikologi, koran, media sosial atau sumber-sumber lainnya.

2. Mengolah Frasa
Frasa adalah gabungan kata. Sebagai contoh: baju biru, langit cerah, luas sekali, kopi ayah, apel di atas meja. Untuk menguatkan kemampuan diksi, kita bisa berlatih mengolah dan mengotak-atik kata menjadi berbagai frasa dan membuat daftarnya. Mari kita coba membuatnya: keheningan bahasa, ingatan yang terkunci, laut tua, sunyi di jendela, segelas kopi yang kedinginan, kota yang mencatat jejakmu, mimpi lelap, kata-kata di kesenyapan ponsel, dan seterusnya. Frasa-frasa tersebut bisa kita gunakan ketika kita menulis puisi.

3. Beberapa Hal yang Mesti Kita Perhatikan ketika Kita Memilih Kata
Ada beberapa hal yang mesti kita perhatikan ketika memilih kata dalam puisi, seperti pertimbangan makna (apakah kuat atau tidak), keselarasan rima dan irama, serta kedudukan kata tersebut di tengah kata-kata lainnya.

Dalam menulis puisi, kita mesti menimbang-nimbang kata mana yang memiliki daya yang lebih kuat. Misalnya saya ambil contoh puisi “Aku Ingin”, sebuah puisi populer karya Sapardi Djoko Damono: “aku ingin mencintaimu dengan sederhana”. Pada baris puisi tersebut, Pak Sapardi memilih menggunakan kata “mencintai” dibandingkan kata “menyayangi” atau “mengasihi”. Hal itu dilakukan karena menurut Pak Sapardi kata “mencintaimu” lebih kuat dan lebih mampu membangun keindahan, keselarasan, dan keutuhan puisi—dan saya sendiri (barangkali demikian pula dengan teman-teman) juga berpendapat sama, di antara tiga kata tersebut kata “mencintai”-lah yang paling kuat dan pas untuk mengisi baris tersebut.

Selain itu keselarasan rima juga merupakan hal yang mesti kita perhatikan dalam memilih kata. Sebagai contoh saya akan mengutip puisi karya Goenawan Mohamad yang berujudul “Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi”.

“Di piano bernyanyi baris rubaiyat
Di luar detik dan kereta telah berangkat
Sebelum bait pertama, sebelum selesai kata
Sebelum hari tahu ke mana lagi akan tiba.

Pada kutipan puisi di atas, Goenawan Mohamad memilih menggunakan kata “tiba” dibanding kata “datang” (yang merupakan sinonimnya) karena mempertimbangkan rima, agar selaras dengan bunyi akhir/rima baris ketiga.

Demikianlah beberapa tips memilih diksi yang saya susun beradasarkan pengalaman saya dalam belajar menulis dan yang saya kutip dari berbagai sumber. Mudah-mudahan bisa bermanfaat. Sebagai penutup ini saya kutipkan beberapa puisi dengan berbagai gaya diksi yang bisa kita nikmati bersama. Akhir kata, terima kasih.


/1/
SAJAK TAFSIR
(Karya Sapardi Djoko Damono)

Kau bilang aku burung
Jangan sekali-kali berkhianat
kepada sungai, ladang, dan batu.
Aku selembar daun terakhir
yang mencoba bertahan di ranting
yang membenci angin.
Aku tidak suka membayangkan
keindahan kelebat diriku
yang memimpikan tanah,
tidak mempercayai janji api
yang akan menerjemahkanku
ke dalam bahasa abu.
Tolong tafsirkan aku
sebagai daun terakhir
agar suara angin yang meninabobokan
ranting itu padam.

Tolong tafsirkan aku sebagai hasrat
untuk bisa lebih lama bersamamu.
Tolong ciptakan makna bagiku,
apa saja – aku selembar daun terakhir
yang ingin menyaksikanmu bahagia
ketika sore tiba.


/2/
SAJAK KEPADA BUNG DADI
(Karya Wiji Thukul)

ini tanahmu juga
rumah-rumah yang berdesakan
manusia dan nestapa
kampung halaman gadis-gadis muda
buruh-buruh berangkat pagi pulang sore
dengan gaji tak pantas
kampung orang-orang kecil
yang dibikin bingung
oleh surat-surat izin dan kebijaksanaan
dibikin tunduk mengangguk
bungkuk

ini tanah airmu
di sini kita bukan turis

(Solo-Sorogenen. malam Pemilu 87)


/3/
PULANG KE DAPUR IBU
(M. Aan Mansyur)

Aku hidup diantara orang-orang yang memilih
melakukan usaha lebih keras untuk menyakiti orang lain
dari pada menolong diri sendiri

Aku ingin pulang ke dapur ibuku,
melihatnya sepanjang hari tidak bicara,
Aku ingin menghirup seluruh kebahagiaannya
-yang menebal jadi aroma
yang selalu membuat anak kecil dalam diriku kelaparan.

Aku ingin diam dan hidup bersama ibuku.
Aku akan menyaksikan ia memetik sayur di kebun kecilnya
di halaman belakang untuk makan malam yang lengang,
Aku ingin membiarkannya tersenyum menatapku makan tanpa bernapas.

Aku ingin melihat ibuku tetap muda dan mudah tersenyum
Aku ingin menyimak seluruh kata yang tidak ia ucapkan
Aku ingin hari-harinya sibuk menebak, siapa yang membuatku
tiba-tiba suka bernyanyi di kamar mandi


Dimas Albiyan
Lagoa, 23 Agustus 2018

Mengenal Majas


MENGENAL MAJAS SIMILE, METAFORA, DAN PERSONIFIKASI


Majas adalah bahasa yang digunakan oleh penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yakni secara tidak langsung mengungkapkan makna (menggunakan kata kiasan). Penggunaan majas inilah yang membedakan antara bahasa puisi dan karya sastra lainnya dengan teks lain seperti karya ilmiah atau berita. Ada berbagai macam jenis majas yang dapat kita gunakan untuk menguatkan puisi yang kita tulis. Akan tetapi dalam tulisan ini saya akan membahas tiga jenis puisi saja, yakni simile, metafora, dan personifikasi.

1. SIMILE
Simile atau yang juga disebut sebagai majas asosiasi adalah majas yang membandingkan sesuatu hal dengan hal yang lainnya dengan menggunakan kata penghubung atau kata pembanding. Kata penghubung yang dimaksud tersebut di antaranya adalah: bagai, bagaikan, seperti, serupa, sebagai, layaknya, laksana. Itulah sebabnya mengapa simile juga kerap disebut sebagai perumpamaan tidak langsung, karena ketika mengumpamakan dua hal, dalam simile kita harus menggunakan kata-kata penghubung tersebut.
Contoh penggunaan majas simile: “engkau bagai pelita dalam kegelapan”, “langit seperti mimpi-mimpi yang panjang”, “sunyi serupa dinding yang dingin”, “hari-hari telah kutanam sebagai hutan", “puisi ini layaknya doa yang senantiasa kaupeluk di dinihari, “dan aku tak ubahnya serupa ingatan yang tak pernah tercatat dalam puisi itu.”
Berikut ini saya kutipkan beberapa kutipan puisi karya penyair terkemuka yang memanfaatkan penggunaan simile dalam puisinya.

“Dirimu selalu serupa embun pagi
yang pamit karena takut mentari
lantas aku lipat rinduku rapi-rapi.
(Didik Siswantono-Sajak Rindu Sepanjang Malam)

“Langit banyak menjatuhkan kata sifat.
Tidak satu pun ingin kutangkap dan kuingat.
Kubiarkan mereka bermain seperti anak-anak kecil
sebelum mengenal sekolah.
(M. Aan Mansyur-Menyaksikan Pagi dari Beranda)

“Aku bagai benih di bawah tanah.
Aku menanti tanda musim semi.
(Jalaluddin Rumi)

2. Metafora
Berbanding terbalik dengan simile, metafora adalah majas perumpamaan langsung. Pada metafora kita tidak perlu menggunakan kata penghubung seperti “bagai”, “serupa”, laksana, “bagaikan”, “layaknya”, “seperti”, “bak”, dan sebagainya. Mari kita lihat bersama-sama perbedaan antara simile dengan metafora. 
Sebagai contoh: “engkau bagai air yang jernih”. Kutipan ini menggunakan simile, menggunakan kata penghubung “bagai” untuk membandingkan “engkau” dengan  “air yang jernih”. Akan tetapi, dalam metafora kita tidak perlu menggunakan kata penghubung untuk membandingkannya. Sebagai contoh: “telah kulipat ingatan-ingatan itu”. Pada potongan puisi tersebut, si penulis membandingkan (mengumpamakan) “ingatan” seperti kertas yang bisa dilipat, namun si penulis tidak menggunakan kata penguhubung seperti bagai, laksana, serupa, dan lainnya. Bahkan si penulis juga tidak menyertakan kata “kertas” dalam kutipan puisi tersebut, ia langsung saja mengumpamakan: “ingatan bisa dilipat” (seperti kertas).
Contoh metafora lain:
a) dewi malam di atas langit. “Dewi malam” pada kutipan tersebut merujuk pada “bulan”.
b) “Gerimis di sudut matamu” yang mengumpamakan tangisan dengan gerimis.  
c) “Ia memanggul kesedihan itu sendiri” yang mengumpamakan kesedihan seperti barang yang bisa dipanggul.

Berikut saya kutip contoh potongan puisi karya penyair terkemuka yang menggunakan metafora.

“Embusan nafasmu menjelma kenangan
mengikat musim jadi lembar ingatan”
(Didik Siswantono)

“Kau bawa bertandan-tandan percakapan yang belum diiris”
(Adimas Imanuel)

3. Personifikasi
Personfikasi adalah majas yang banyak dijadikan jurus oleh penulis. Majas ini adalah suatu teknik membandingkan benda mati yang diumpamakan seperti makhluk hidup. Benda yang tak bernyawa dijadikan oleh si penyair seperti makhluk yang dapat bergerak dan melakukan tindakan. Contoh sederhananya seperti: “angin berbisik, pepohonan pun menari”, “matahari yang bersembunyi di balik bukit”, “ombak memagut pantai”, “sunyi masih berbicara di ruang ini”,  dan sebagainya.
Berikut ini saya kutip beberapa puisi karya penyair yang menggunakan majas personifikasi.

“Angin yang kini letih
bersujud di pelupuk ibu.”
(D. Zawawi Imron)

“Di depan perpustakaan, langit masih menatap jendela tertutup
itu tanpa berkedip.”
(M. Aan Mansyur)

Demikianlah pembahasan singkat mengenai majas simile, metafora, dan personifikasi dari saya.
Semoga bermanfaat. Terima kasih.

Dimas Albiyan
Lagoa, 23 Agustus 2018

Minggu, 01 Juli 2018

Epilog


Akhirnya mengabur juga hari-hari itu.
Mimpi-mimpi yang dipudarkan tahun demi tahun.
Bayang dan ingatan yang berkelindan di jantung waktu,
di mana kau pernah membentangkan sebuah angan,
cahaya yang selalu ingin kausentuh dan kaugenggam.
Dan nasib,
sunyi riwayat yang melekat di dinding kenangan.
“Kini sudah tiba waktunya,” katamu.
Langkah dan kepergian mesti jua dilepaskan
pada kembara atau lembaran hari kosong−
mimpi-mimpi lain yang mesti kita tuliskan.

Tanjung Priok, 25 Juli 2017

Senin, 30 April 2018

review 2

Di tengah dominasi penyair laki-laki dalam dunia perpuisian Indonesia, saya sangat senang bisa menemukan kumpulan puisi “Gambar Kesunyian di Jendela” karya Shinta Febriany ini. Kehadiran Shinta seperti mengembuskan angin segar bagi dunia perpuisian negeri kita, sekaligus mampu memberikan inspirasi bagi perempuan untuk berkarya melalui puisi. Dengan diksi yang sederhana, Shinta menceritakan beragam hal seperti kesunyian, kesedihan, ketegaran, luka, dan perpisahan.
Nuansa kemuraman memang sangat kental dalam kumpulan puisi ini. Akan tetapi, Shinta mengemas kemuraman itu dengan bahasa yang puitis, sederhana, namun tidak klise dan terasa menyegarkan.
Puisi-puisi Shinta dalam kumpulan ini bagi saya seperti menunjukkan, bahwa kesedihan tidak selamanya mesti ditampilkan dengan kesan yang cengeng penuh dengan kenelangsaan, melainkan juga dapat ditampilkan dari sisi yang penuh ketegaran. Dalam puisi “Angin Oktober di Dadamu, misalnya, Shinta menuliskan ketegaran seseorang dalam menerima luka dan penderitaan: “Kau mencintai tubuhmu yang wangi penuh penderitaan, tapi kau ingin meninggalkannya”. Dalam bagian lain di puisi ini, Shinta bahkan menegaskan, bahwa luka dan keputusasaan mesti ditanggalkan, dan digantikan dengan hal-hal yang berwarna: “telah kauhapus lagu-lagu putus asa, dan menggantinya dengan baju-baju berwarna.
Secara keseluruhan, bagi saya kumpulan puisi “Gambar Kesunyian di Jendela” karya Shinta Febriany ini adalah sebuah karya yang amat menarik—dengan puisi yang indah, dalam, dan memiliki karakter yang kuat. Dan sebagai seorang penyair, menurut saya Shinta Febriany adalah sosok yang patut serta layak diperhitungkan.

Selasa, 12 Desember 2017

Memoar

If I lose my sense of place 
and my way in the wind,
I'll look up-that's it! I'll look up.
(Terry McDonagh-No Places in the Marshes)

/1/
Langit selalu berdegup dengan hebat dalam jantungku.
Ia jauh namun terasa dekat.
Ia dekat namun terasa jauh.
Jauh di kedalaman diriku
yang tak pernah sanggup untuk kusentuh.

/2/
Setiap akhir adalah mula yang dituliskan oleh waktu.
Orang-orang datang dan pergi,
tetap tinggal atau kembali menjelma mimpi.
Ingatan selalu ingin mencatat hari-hari itu kembali.
Meski kutahu aku tak boleh berkata lagi:
seandainya semua itu terjadi.

/3/
Ingin kubiarkan sunyi menyembunyikanku kembali
di belantara kata
atau tempat di mana mimpiku biasa bersembunyi.
Di jantung ruang itu
aku akan mencatat semuanya kembali:
doa dan hari-hari depan
yang mesti kita jalani.

Sabtu, 18 November 2017

MENGGALI SEGALA KEMUNGKINAN DALAM KETIDAKBEBASAN

     Saya membaca sebuah esai karya Jamal D. Rahman beberapa bulan yang lalu. Esai tersebut berjudul “Puisi, Setelah Kebebasan”. Di dalam esainya tersebut, penyair yang juga pimpinan redaksi majalah sastra Horison ini mengajak kita untuk menengok kembali bentuk puisi lama seperti pantun, syair, gurindam, dan lainnya—di tengah maraknya puisi-puisi Indonesia saat ini yang bercorak puisi bebas. Apa yang disampaikan oleh Jamal D. Rahman ini begitu menarik hati saya—dan kemudian mengilhami saya untuk membuat tulisan ini.
Pada bagian awal esai tersebut, Jamal D. Rahman mengulas sebuah pernyataan dari Berthold Damshäuser (dosen bahasa dan sastra Indonesia di Universitas Bonn, Jerman) yang membahas perihal perkembangan puisi Indonesia saat ini. Berthold Damshäuser mengatakan, bahwa kebanyakan puisi Indonesia saat ini merupakan prosa, atau bisa dibilang mengandung unsur prosa yang kental. Cenderung sulit menemukan puisi Indonesia dewasa ini yang mengeksplorasi keindahan rima dan larik yang teratur lagi ketat, serta mengandung unsur musikalitas kata yang kuat—yang secara teknis dapat disebut sebagai sajak. Meskipun banyak dari puisi-puisi itu memiliki bentuk yang berlarik-larik, namun corak kata-kata yang menyusunnya lebih menyerupai prosa. Singkatnya, Berthold mengatakan bahwa ia merindukan puisi Indonesia yang bukan prosa. Ia merindukan sajak.
Kerinduan Berthold akan puisi Indonesia yang berbentuk sajak ini kiranya dapat kita pahami. Pada kenyataannya, memang amat mudah menemukan puisi bebas dalam perpuisian Indonesia saat ini. Sebaliknya, relatif sulit menemukan puisi bersajak yang memiliki larik dan rima yang teratur lagi ketat, serta mengandung unsur musikalitas kata yang kuat.  
Suatu hal yang tidak bisa kita pungkiri, bahwa puisi bebas saat ini memang menjadi pilihan banyak penulis. Bentuknya yang bebas itu dianggap lebih memungkinkan bagi kita untuk melakukan berbagai eksplorasi. Lain halnya dengan puisi lama yang tidak bebas dan terikat oleh aturan baku sebagaimana pantun dan syair.
Lantas, apakah benar puisi lama yang tidak bebas dan banyak aturan itu tidak dapat kita eksplorasi serta gali-korek sedalam-dalamnya lagi?
Untuk menjawab pertanyaan ini, mari sama-sama kita simak terlebih dahulu kutipan teks berikut.

/1/
Hutan bayang rimbanya sakti
Layang-layang di Gondangdia
Karena sujud dalam hati
Bayang-bayang kusangka dia

Layang-layang di Gondangdia
Ambil mengkudu di pohon kapas
Bayang-bayang kusangka dia
Hati rindu belumlah lepas

(Pantun Melayu, Balai Pustaka: 2008)

Sebagaimana kita ketahui bersama, teks di atas merupakan sebuah pantun, salah satu bentuk puisi lama yang terkenal dan tersebar di wilayah Nusantara. Kita dapat mengetahuinya  berdasarkan  bentuk dan pola  yang digunakannya: menggunakan rima a-b-a-b, mengandung sampiran dan isi, serta mematuhi aturan jumlah bait, baris, kata, dan suku kata. 
         Sekarang, mari kita simak kembali sebuah kutipan teks berikut ini. 

/2/
3 PANTUN TAK TUNTAS

Telah membusuk setangkai sirih
Kupetik pada cuaca yang salah
Telah kautusuk: sehunus pedih
Ketika kau berbisik: “aku telah …”

Sebelah pinang sekerat kenang
Engkau sirih yang terkunyah
Sembunyi di gelap selapis bayang
Aku bertanya: “engkaukah …”

Berkanvas sirih engkau kulukis
Berkuas jemari kulakar tatapku
Bergegas sisa-sisa dengus kukais
Sebelum nafas habis, lalu …

Puisi di atas yang berjudul “3 Pantun Tak Tuntas” tersebut saya kutip dari buku tentang tips menulis puisi berjudul “Menapak ke Puncak Sajak” karya Hasan Aspahani. Sayangnya dalam buku itu tidak dicantumkan nama penulis puisinya siapa. Barangkali penulisnya adalah Hasan Aspahani sendiri.
Puisi “3 Pantun Tak Tuntas” itu adalah contoh bagaimana sebuah pantun dapat dieksplorasi sedemikian rupa. Bagaimana bahasa dari khazanah pantun lama tetap dipertahankan, akan tetapi di sisi lain suasana baru juga terbangkitkan. Kita pun dapat membandingkan antara teks 1 dan 2 corak diksinya memiliki warna yang cenderung sama. Baris terakhir dalam tiap bait “3 Pantun Tak Tuntas” ini memang tidak tuntas kalimatnya, sebagaimana yang tersirat pada judulnya, namun rimanya  a-b-a-b sebagaimana pantun pada umumnya. 
Bagi saya pribadi, puisi “3 Pantun Tak Tuntas” ini menunjukkan kecerdikan dan kekreatifan si penulis dalam mengeksplorasi pantun yang tidak bebas dan banyak aturan itu. Hal ini sekaligus membuktikan, bahwa dalam ketidakbebasan pun kita masih bisa menggali berbagai kemungkinan. Puisi ini contohnya. Sebuah puisi yang menggunakan bentuk dan pola pantun, namun diakal-akali sedemikian rupa sehingga mampu menampilkan sesuatu yang lama tapi baru, atau dengan kata lain menyajikan sesuatu yang lama dengan cara yang baru.
Berdasarkan contoh kutipan teks di atas, maka dapat kita katakan, bahwa bentuk puisi lama yang tidak bebas dan banyak aturan itu ternyata masih bisa kita eksplorasi serta gali-korek sedalam-dalamnya—dan itu adalah tantangan yang sangat mengasyikkan!
Mengapa saya katakan itu sebagai sebuah tantangan yang mengasyikkan? Hal itu karena kita seperti diajak untuk bereksperimen, mengotak-atik suatu bentuk yang sudah ada, memilah-milah mana yang mesti dipertahankan, mana yang mesti ditanggalkan, sampai kita dapat menemukan suatu formula atau cara untuk menulis yang rasa-rasanya pas bagi kita—untuk menyampaikan segenap pikiran dan perasaan kita.
Di samping pantun, bentuk puisi lama yang cukup masyhur di wilayah Nusantara adalah gurindam, yakni bentuk puisi yang terpengaruh oleh budaya sastra India yang biasanya berisi nasihat dan filosofi hidup. Pengarang gurindam yang terkenal adalah Raja Ali Haji, saudara sepupu Raja Ali yang menjadi raja di Riau (1844-1857). Raja Ali Haji terkenal dengan karyanya yakni “Gurindam Dua Belas”. Berikut ini akan saya kutipkan potongan gurindam dua belas karya Raja Ali Haji.

Cahari olehmu akan sahabat
Yang boleh dijadikan obat

Cahari olehmu akan guru
Yang boleh tahukan tiap seteru
(Gurindam Dua Belas Pasal 6)

Beberapa tahun yang lalu, penyair Hasan Aspahani juga pernah menulis sebuah puisi yang ia beri judul “Gurindam”. Puisi ini kemudian menjadi salah satu puisi yang terpilih sebagai “60 Puisi Terbaik Indonesia 2009” dalam anugerah sastra Pena Kencana. Sebagai perbandingan Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji, ini akan saya kutipkan juga penggalan puisi Hasan Aspahani tersebut.

Kamus bukan samudra, juga bukan luas angkasa
Kamus cuma peta, menuntun pemburu melacak kata.

Jadilah pemburu yang membebaskan kata-kata
Jadilah penakluk kamus, pengejar batas bahasa

Di manakah rumah paling nyaman bagi kata?
Pada sajak, bukan kamus, bukan bicara.
(Hasan Aspahani, Gurindam)

Mari kita bandingkan antara Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji dengan puisi “Gurindam” yang ditulis oleh Hasan Aspahani. Adakah perbedaan yang kita temui antara keduanya? Dari segi pola, praktis tidak ada perbedaan antara kedua teks tersebut. Keduanya sama-sama patuh terhadap aturan gurindam seperti jumlah baris tiap bait, jumlah kata dalam tiap baris. Jika ada yang sedikit berbeda, maka itu adalah perihal isinya. Gurindam Dua Belas Raja Ali Haji berisi tentang nasihat kehidupan sebagaimana gurindam pada umumnya. Puisi “Gurindam” karya Hasan Aspahani pun sebenarnya sama: berisi nasihat. Hanya saja dalam “Gurindam” karya Hasan Aspahani nasihatnya berkaitan seputar menulis sajak. Itu saja perbedannya.
Bagi saya, apa yang dilakukan oleh Hasan Aspahani dalam puisi “Gurindam” ini merupakan suatu usaha yang layak untuk kita tiru. Ia berhasil mengolah kembali bentuk gurindam secara kreatif, dengan asyiknya mengeksplorasi suatu bentuk yang sudah baku dengan cara yang baru.
Kita pun juga bisa melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Hasan Aspahani tersebut. Kita bisa menirunya. Bukanlah suatu hal yang salah apabila kita mencoba menengok kembali berbagai bentuk puisi lama dalam menulis puisi—di samping kita menulis puisi bebas. Kemudian kita juga dapat mengotak-atik bentuk-bentuk tersebut, mengeksplorasinya sekreatif mungkin,  untuk menemukan bentuk yang kita rasa paling pas untuk menyampaikan pikiran dan perasaan kita. 
Sebelum saya akhiri, saya ingin menyampaikan, bahwa apa yang saya tulis di sini adalah sekadar ajakan untuk kita menengok kembali bentuk-bentuk puisi lama. Bukan bermaksud menyatakan bahwa puisi yang bersajak lebih baik dari pada puisi bebas atau puisi prosais, pun sebaliknya. Tulisan ini sekadar ajakan. Barangkali dengan kita meninjau kembali bentuk puisi lama, kita dapat memelajari perangkat-perangkat puitiknya untuk berlatih menulis, mengolahnya kembali dengan sekreatif mungkin, yang pada akhirnya berdampak pada semakin variatif dan kuatnya kemampuan menulis puisi kita. Kita bisa menulis puisi bebas saat kita sedang ingin menulis puisi bebas. Kita pun bisa menulis puisi bercorak puisi lama seperti pantun atau syair saat kita sedang ingin menulis dalam bentuk tersebut. Satu hal yang paling penting adalah terus menulis saja. Terus berusaha menggali segala kemungkinan dalam menulis—baik dalam kebebasan, maupun dalam ketidakbebasan.

Tanjung Priok, 18 November 2017

Rabu, 01 November 2017

Penyimpangan Bahasa dalam Puisi

PENYIMPANGAN BAHASA DALAM PUISI

     Penyimpangan bahasa dalam puisi sering menjadi ciri satu angkatan periode sastra tertentu. Penyimpangan bahasa tersebut disebabkan bahasa puisi khususnya dan bahasa sastra pada umumnya bersifat tidak stabil. Setiap angkatan dalam sastra mengubah konvensi sastra sambil memakai dan menentangnya. (Teeuw, 1983: 4). Penyair melakukan penyimpangan bahasa dalam puisinya tersebut seringkali untuk memberikan daya/kekuatan bentuk pengucapan tertentu dalam puisinya. Selain itu, penyimpangan bahasa juga dilakukan karena penyair kerap merasa, bahwa bahasa konvensional yang sudah ada tidak dapat menjadi medium yang mampu mengungkapkan perasaannya secara tuntas. Sementara di sisi lain, sudah barang tentu melalui puisinya penyair ingin mengungkapkan perasaan dan pikirannya secara tuntas.
        Geoffrey Leech menyebutkan adanya sembilan jenis penyimpangan bahasa yang sering dijumpai dalam puisi. Tidak setiap puisi memiliki sembilan aspek penyimpangan itu, tetapi mungkin hanya memiliki salah satu atau beberapa aspek penyimpangan yang dominan pada zaman tertentu. Kesembilan penyimpangan bahasa itu merupakan kumpulan data dari berbagai puisi dalam berbagai kurun waktu tertentu (leech: 1976, 42-52).

1. Penyimpangan Semantis
      Sebagaimana yang sudah kita bahas sebelumnya, semantik adalah cabang ilmu linguistik yang membahas tentang makna tanda bahasa. Berkaitan tentang ilmu semantik, penyair sering kali mengabaikan aturan semantik dalam puisinya, atau yang dapat disebut juga sebagai penyimpangan semantis. Penyimpangan semantis berarti penyimpangan yang berupa penggunaan kata dalam puisi yang maknanya tidak menunjuk kepada makna aslinya dan satu makna tertentu. Misalnya, ketika seorang penyair menggunakan kata ‘langit’ dalam puisinya, bisa jadi makna ‘langit’ yang ia maksud itu bukan ‘langit’ sebagaimana yang kita pahami dalam kehidupan sehari-hari. Kata ‘langit’ itu bisa merujuk kepada ‘Tuhan’ atau ‘sesuatu/seseorang yang sangat jauh dan sulit dijangkau’.

2. Penyimpangan Fonologis (Bunyi Bahasa)
       Untuk kepentingan rima, penyair sering melakukan penyimpangan bunyi. Sebagai contoh, dalam puisinya yang berjudul “Yang Terampas dan Putus”, Chairil Anwar menggunakan kata ‘menggigir’ untuk menggantikan kata ‘menggigil’. Ia melakukan penyimpangan dengan mengubah bunyi /l/ dalam kata ‘menggigil’ menjadi bunyi /r/ sehingga menjadi ‘menggigir’
“Menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin” (Yang Terampas dan Yang Putus)

3. Penyimpangan Morfologis (Pembentukan Kata)
    Penyair sering kali juga tidak mengindahkan aturan morfologis (pembentukan kata) untuk memberi daya/kekuatan tertentu dalam bentuk pengucapan puisinya. Sebagai contoh akan saya kutip puisi Balada Sumillah karya W.S. Rendra di bawah ini.

“bila pucuk bambu ngusapi wajah bulan
ternak rebah dan bunda-bunda nepuki paha anaknya”
(Balada Sumilah)

Dalam kutipan puisi tersebut, Rendra menggunakan kata ‘ngusapi’ dan ‘nepuki’ yang sebenarnya secara morfologis tidak tepat. Penggunaan yang tepat adalah ‘ mengusapi’ yang dibentuk dari kata dasar ‘usap’ +  imbuhan ‘me-i’ dan kata ‘menepuki’ yang terbentuk dari kata dasar ‘tepuk’ + imbuhan ‘me-i’.

4. Penyimpangan Sintaksis
          Penyimpangan sintaksis ini dapat juga disebut sebagai penyimpangan pola kalimat dalam puisi, dengan catatan perlu diingat bahwa kata-kata dalam puisi tidak membangun kalimat, melainkan baris atau larik.
Penyair kerap mengabaikan aturan pola kalimat dalam kaidah bahasa. Sebagai contoh saya kutip puisi Chairil Anwar yang berjudul “Senja di Pelabuhan Kecil” di bawah ini.

“Ini kali tidak ada yang mencari cinta
Di antara gudang, rumah tua, pada cerita tiang serta temali”

Pada kutipan puisi di atas Chairil menggunakan frase ‘ini kali’ yang sebenarnya tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Penggunaan yang tepat seharusnya ‘kali ini’ karena bahasa Indonesia memiliki pola diterangkan-menerangkan.
Berkaitan tentang pola diterangkan-menerangkan ini saya akan megambil contoh berikut.

Contoh: yang benar adalah “kucing hitam”, bukan “hitam kucing”. Kata yang lebih dulu disebut adalah ‘kucing’ (sesuatu yang diterangkan), baru kemudian diikuti oleh kata ‘hitam’ (sesuatu yang menerangkan kata ‘kucing’ itu—yang menerangkan bahwa kucing itu berwarna hitam).
Hal ini berbanding terbalik dengan kaidah bahasa Inggris yang memiliki pola menerangkan-diterangkan. Sebagai contoh, yang benar adalah “black cat”, bukan “cat black”.

5. Penyimpangan Leksikal
           Kata-kata yang digunakan dalam puisi menyimpang dari kata-kata yang kita pergunakan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya: ngiau, pepintu, leluka, sepisaupi.
Sebagai contoh adalah puisinya Sutardji Calzoum Bachri yang berjudul “Sepisaupi”.

“sepisaupa, sepisaupi
sampai pisauNya ke dalam nyanyi”

6. Penggunaan Dialek
          Melalui puisinya, penyair ingin mengungkapkan isi hatinya dengan tuntas. Akan tetapi, seringkali penyair merasa bahasa Indonesia tidak mampu mewakili perasaannya secara tuntas, yang membuat penyair itu “terpaksa” menggunakan kosa kata bahasa daerahnya untuk mengungkapkan suatu perasaan/emosi tertentu. Sebagai contoh akan saya kutip puisi F. Aziz Manna yang berjudul “Jumpritan” dan puisi Wiji Thukul yang berjudul “Nyanyian Abang Becak” di bawah ini.

“lengan pun melimbang dari tiang ke pegangan. dari yang satu ke yang ragam.
bonda-bendi sing ketiban dadi”. dia yang telah ditunjuk mengincim kami.
mengejar ke mana pun pergi”
(Jumpritan)

“jika harga minyak mundhak
simbok semakin ajeg berkelahi sama bapak”
(Nyanyian Abang Becak)

7. Penggunaan Register.
           Penyimpangan ini berupa penggunaan ragam bahasa atau istilah yang digunakan kelompok profesi tertentu dalam masyarakat. Misalnya dalam kelompok profesi supir angkot di daerah Jabodetabek terdapat istilah “sewa” yang berarti penumpang, “bongkaran” yang berarti penumpang dalam jumlah banyak, atau istilah “empat enam” yang mengacu pada bangku di angkot yang muat 6 orang untuk di bangku sebelah kanan dan 4 orang untuk di bangku yang sebelah kiri.
Penyair seringkali menggunakan register (dialek profesi) ini untuk menguatkan latar puisi yang temanya berkaitan dengan profesi tertentu itu.

8. Penyimpangan Historis
           Adalah bentuk penyimpangan yang menggunakan kata-kata kuno yang sudah tidak digunakan lagi dalam kehidupan sehari-hari seperti kata jenawi, ripuh, bonda, dewangga, lampus dan sebagainya.
Sebagai contoh adalah kutipan dari tulisan pembuka dalam kumpulan puisi “Nyanyi Sunyi” karya Amir Hamzah di bawah ini yang mengunakan kata “lampus”.

Sunyi itu luka
Sunyi itu kudus
Sunyi itu lupa
Sunyi itu lampus

9. Penyimpangan Grafologis
           Penyimpangan grafologis adalah penyimpangan yang berupa tidak digunakannya tanda baca atau penggunaan huruf kapital sebagaimana mestinya dalam puisi.
Sebagai contoh akan saya kutip secara penuh puisi “Playon” karya F. Aziz Manna yang mana terdapat penyimpangan grafologis di dalamnya. Ia tidak menggunakan huruf kapital di setiap akhir baris yang dibubuhi tanda titik.
Kutipan puisi ini juga sekaligus menutup materi tentang “Penyimpangan Bahasa dalam Puisi” kali ini.
Akhir kata, semoga bermanfaat, dan selamat menikmati puisinya.
Salam.

PLAYON

garis awal, garis pintu, satu kaki di depan, satu di belakang.
kepala lurus, angin bersidorong. yang lalu lintaslah, yang lintas
lalulah. garis jalan, garis belokan, satu kaki membumi,
satu kaki mengawang, kepala lurus, angin bersidorong.
yang lalu lintaslah, yang lintas lalulah. garis akhir, garis pintu
satu kaki di dalam, satu kaki di luar, kepala lurus, angin bersidorong.
yang lalu lintaslah, yang lintas lalulah. debu dan keringat
lengket, pikiran sekosong ceret, garis hablur terseret,
angin bersidorong. yang lalu lintaslah, yang lintas lalulah.

(F. Aziz Manna)

*Sumber Pustaka Materi: Buku “Teori dan Apresiasi Puisi” karya Herman J. Waluyo.


Note:
Perlu kita ketahui sebelumnya, bahwa yang dimaksud dengan “penyimpangan bahasa” dalam materi ini bukanlah merupakan suatu hal yang salah, melainkan sebagai suatu cara yang dilakukan oleh penyair untuk memperkuat daya puisi yang ditulis olehnya.
Ada beberapa alasan mengapa penyair melakukan penyimpangan bahasa dalam puisinya. Di antara beberapa alasan tersebut adalah sebagai berikut.
1. Untuk memperkuat daya puisi
2. Untuk mencapai bentuk pengucapan tertentu yang diinginkan
3. Untuk mencapai keselarasan rima

Selain itu, penyimpangan bahasa juga dilakukan oleh penyair karena ia kerap merasa, bahwa bahasa konvensional yang sudah ada tidak dapat menjadi medium yang mampu mengungkapkan pikiran dan perasaannya secara tuntas serta memuaskan jiwanya.
Demikian pengantar materi ini saya sampaikan.
Btw teman-teman juga bisa menggunakan penyimpangan bahasa ini sebagai salah satu jurus dalam menulis puisi ke depannya.
Akhir kata, semoga bermanfaat. 
Dan bagi teman-teman yang ingin bertanya silakan. Akan saya coba jawab semampu saya.
Terima kasih..