Melintasi pasar ini di kala
subuh, membuatku teringat akan masa kecilku bersama dengan teman-temanku. Dulu, saat
masih menginjak sekolah dasar, kami gemar berjalan kaki bersama mengitari blok
tempat tinggal kami setiap Minggu subuh. Jumlah kami sekitar lima sampai tujuh
orang waktu itu. Akan kuceritakan nanti kepadamu perihal teman-teman masa
kecilku itu.
"Ritual" berjalan kaki kami dimulai dari
Gang 4, gang di mana rumah kami berada. Sebuah gang sempit dengan lebar dua
meter. Ada got besar yang menyerupai kali kecil di sepanjang sisinya. Aliran
air got ini mengalir ke arah Kali Kresek yang nantinya akan bermuara di Teluk
Jakarta. Dari gang ini, kami berjalan ke arah timur. Menyusuri gang padat
penduduk yang di kala subuh sudah mulai ramai dengan berbagai aktivitas
warganya. Tiba di mulut gang, kami berbelok ke arah kiri menyusuri Jalan Kramat
Jaya. Melewati toko-toko yang belum dibuka, patung Diponegoro yang dengan gagah
sedang menunggang kuda di atas gapura Gang 2, jalan yang masih nampak lengang
dan lega. Kami berjalan sekitar 100 meter di jalan ini. Kemudian kembali
berbelok ke kiri menyusuri Jalan Raya Cilincing. Jalan ini adalah akses utama
menuju Pelabuhan Tanjung Priok. Kecuali hari libur, jalan ini selalu dipadati
oleh truk-truk besar yang hendak masuk atau keluar pelabuhan. Pada jam berangkat
atau pulang kerja, sudah bisa dipastikan jalan ini akan macet. Akan tetapi, hal
itu tidak akan terjadi pada Minggu subuh. Hanya ada beberapa truk saja yang
terlihat. Jadi, setiap menyusuri jalan ini, pemandangan yang kami lihat adalah
sebuah jalan raya dengan truk-truk besar yang sesekali melintas.
Sekitar 10 menit menyusuri
Jalan Raya Cilincing, kami tiba di Pasar Waru. Pasar sudah ramai. Kami berjalan
di antara orang-orang yang tengah berbelanja. Melewati kios-kios sayuran,
buah-buahan, daging, barang pecah-belah, dan lainnya. Di pasar ini, terkadang
kami singgah sebentar untuk membeli jajanan kue yang penjualnya adalah orang
Madura. Ada kue apem, bakpau isi kacang ijo, cucur, donat gula, gemblong,
onde-onde, dan roti goreng isi kelapa. Waktu itu dengan uang lima ratus rupiah
kami bisa mendapatkan dua potong kue.
Setelah membeli kue, kami
kembali berjalan sampai tiba di Gang 4. Di pinggir gang, di depan rumah salah
seorang temanku, kami memakan kue yang sudah kami beli itu bersama-sama. Setelah
kenyang kami pun bermain. Bermain gundu jika sedang musim gundu, bermain
gambaran jika sedang musim gambaran, atau bermain bola saat sedang tidak ada
musim apa-apa.
***
11 Mei 2016. Hari ini hari
Rabu. Subuh tadi sewaktu lari pagi, aku melintasi Pasar Waru. Melintasi pasar
ini di kala subuh, membuatku teringat akan masa kecilku bersama dengan teman-temanku.
Aku sempatkan waktu untuk mampir sebentar membeli jajanan kue seperti yang kami
lakukan dulu. Penjualnya masih orang Madura yang sama. Jenis-jenis kue yang
dijualnya pun masih sama. Jika ada yang
berbeda, maka hal itu adalah perihal harganya. Sekarang, dengan uang seribu
rupiah, kau hanya bisa mendapatkan satu potong kue saja.
Ya, satu potong kue saja.
Tj. Priok, 11 Mei 2016
Mantap bro ...
BalasHapusThanks ya Bro!!
BalasHapus