Tampilkan postingan dengan label My Little Poem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Little Poem. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Desember 2016

Tiga Puisi di Pertemuan Kecil

Tiga puisi ini dimuat di surat kabar Pikiran Rakyat dua tahun yang lalu, tetapi saya baru tahu mengenai pemuatannya dua hari yang lalu, saat melihat sebuah pesan di kotak masuk surel yang belum saya baca.
Pada Minggu siang, saya tengah mencari alamat surel sepupu saya di kotak masuk untuk sebuah keperluan, ketika melihat sebuah pesan yang belum saya baca. Pesan itu ternyata dari redaksi Pikiran Rakyat yang dikirim pada 25 September 2014, dua tahun yang lalu. Isi pesan itu adalah sebuah pemberitahuan, bahwa jika tidak ada halangan, tiga buah puisi saya akan dimuat di surat kabar tersebut pada edisi Minggu, 28 September 2014 dalam rubrik Pertemuan Kecil. Tentu saya terkejut ketika membacanya. Saya pun jadi teringat kalau saya pernah mengirim beberapa puisi ke surat kabar itu sekitar dua tahun yang lalu. Saya mengirimnya lewat surel di sebuah warnet di samping kampus.
  Oleh karena saya penasaran ingin melihat apakah benar ketiga puisi saya dimuat, saya mencoba mencari file PDF surat kabar Pikiran Rakyat edisi 28 September 2014 tersebut di Google, dan alhamdulillah ketemu. Sebagaimana isi pesannya, ketiga puisi itu dimuat di rubrik Pertemuan Kecil, halaman 23.
Bisa melihat puisi yang saya tulis dimuat di koran, saya hanya bisa bersyukur, dan mudah-mudahan ini bisa menjadi pelecut semangat saya untuk terus menulis, dan terus menulis.

***


/1/
Hikayat Mahabrata: Bhisma

Pujangga
titahkan takdir
menjelma anak panah
dalam bidikan dara.

“Amba, kekasihku, aku sudah siap.
Bunuhlah aku sekarang!”

Tetapi dara itu menjadi sedikit ragu.
Ia tatap lekat-lekat
kedua mata Bhisma yang pasrah –
yang ia rasakan seperti sebuah lorong dejavu
atau mungkin sebuah kisah cinta platonik
yang tak pernah tertakdirkan.

“Aku masuki kecamuk Baratayuda ini
memang untuk membunuhmu.
Tetapi maaf, Tuan! Aku bukan Amba,
aku Srikandi!”

Lirih, Bhisma tersenyum,
sedang  dara itu kembali bersiap
membidik anak panahnya
tepat ke arah jantung Bhisma.

“Jika engkau memang benar-benar lupa,
maka kumohon
anggap saja sekarang dirimu adalah Amba kekasihku,
agar aku tenang
menjemput getirnya mautku.
Maafkan aku, Amba,
yang dulu pernah mencampakkanmu!
Maafkan aku!
Sesungguhnya,
aku sangat ..................
.....................................”

Langit Kurusetra
merah dan kelam.
Lirih, Bhisma tersenyum menatap dara
sebelum tubuh rentanya
tumbang.

(2014)


/2/
Hikayat Ramayana: Sinta kepada Rama

Sebab akulah api
maka jangan engkau menyentuhku lagi,
wahai lelaki yang menamakan dirinya suci!

Memang engkaulah
yang telah membebaskan aku dari Dasamuka,
tetapi engkau pula
yang telah memaksakan aku menjelma api
dengan keraguanmu yang menjadi-jadi.

Engkau mencintai aku.
Aku lebih mencintai engkau.
Tapi jangan engkau menyentuhku lagi,
sebab akulah api! 
(2014)


/3/
Percakapan Rama dengan Lesmana

“Akan kutempuh Gunung Reksamuka, Negeri Alengka,
bahkan Nirwana,
untuk kembali bisa menyentuhmu,
Sinta.”

Begitulah,
kesatria itu terus bergumam--
dengan intonasi yang muram
seperti elegi yang kelam

sepanjang malam.
Sementara hutan pun semakin dalam.
Sepotong bulan
adalah lentera yang temaram.

Mereka terus jalan.
“Tapi, Lesmana, wahai adikku,
apakah Sinta masih mau menerimaku,
lelaki peragu yang telah membiarkannya pergi
ke sisi Rahwana?

Dan apakah aku harus mengalahkan Rahwana musuhku,
untuk kembali dalam dekapan Sinta,
sekalipun harus dengan peperangan akbar
yang menumbalkan jutaan nyawa?”

“Maafkanlah kelancanganku, Kanda Ramawijaya,
sesungguhnya,  musuh sejatimu – yang harus kaukalahkan
bukanlah Rahwana,
tetapi tidak lain adalah keragu-raguanmu,

sedang  di sisi lain, Dewi Sinta
tak pernah sedikitpun meragukanmu.”

(2013-2014)



Rabu, 06 Juli 2016

Kwatrin Hari Lebaran

/1/
KWATRIN MENJELANG LEBARAN

Lebaran mulai menyingkapkan semarak sosoknya
di tengah gejolak pemilu yang belum ketemu ujungnya.
Berbondong orang meninggalkan gempita ibukota,
menuju dekapan desa yang nyaman dan bersahaja.

Tj. Priok, 26 Juli 2014

/2/
MALAM TAKBIRAN

Lengkingan takbir menjalar sampai ke sulur-sulur gang,
seusai sidang isbat dan awal Syawal ditetapkan.
Di serambi masjid, anak-anak menabuh beduk dengan riang.
Di rumah, para ibu menyiapkan opor dan ketupat lebaran.

/3/
KWATRIN HARI LEBARAN

Genta takbir mengudara dari menara masjid.
Tumpah manusia di gang-gang pemukiman kota.
Matahari menyaksikan dari ufuk timur langit:
Bani Adam saling berpeluk penuh bahagia.

/4/
ZIARAH LEBARAN

Di perut kubur, riwayat tak menjadi tilas.
Silsilah darah yang mengucur di nadi kami.
Doa-doa dirapalkan, seiring daun-daun yang melaras.
Semoga engkong dan nenek bahagia, dalam dekapan bumi.

Tj. Priok, 29 Juli 2014

*Puisi-puisi ini saya tulis pada suasana Lebaran dua tahun lalu.

Sabtu, 11 Juni 2016

Malam Menghamparkan Dirinya yang Sunyi

Malam menghamparkan dirinya yang sunyi
di pangkal musim: bulan yang terberkati.
Langit tenteram mengatapi bumi,
diheningkan bait-bait suci
dan kerinduan yang bersemayam abadi
di jantung syair-syair Rumi.
Angin bergerak perlahan menabur segala puji,
doa-doa yang diucapkan oleh para penyepi.
Semesta pun tepekur di keheningan ini,
mengalunkan bahasa yang paling sunyi.

Tj. Priok, 9 Juni 2016

(Dimas Albiyan)

Kamis, 09 Juni 2016

Lagu Musim Sunyi

Musim yang sunyi.
Langit tenteram di dini hari.
Kau berkata, “tiba waktunya untuk kembali,”
entah kepada siapa.
Fajar jauh. Cahaya jauh.
Angin Juni melintas di beranda.
Dan kau masih terjaga,
menafsirkan impian dan keresahan manusia
di antara keheningan kata-kata.

Tj. Priok, 7 Juni 2016

(Dimas Albiyan)

Senin, 11 Januari 2016

Puisi Saya, Dimuat di Koran IndoPos Edisi Sabtu, 9 Januari 2016

/1/
Lagu Musim Kemarau

Selalu ada yang kian muram dan senyap
di ujung musim kemarau yang lelap.
Hari-hari pun meranggas dalam dekapan cuaca.
Bertiup angin musim tenggara.

Kembali daun-daun menjatuhkan diri ke beranda.
Kembali langit mengekalkan bayangmu di luar jendela.
Dahan-dahan patah dengan tubuh yang terkelupas
rebah di tanah memendam rindu yang tak pernah tuntas.

Lihatlah akar pohonan yang tabah menghitung sepi dan luka,
menanti isyarat awan yang tak kunjung tiba.
Lihatlah ada yang senantiasa tugur di antara gugur kata-kata,
diam-diam mendekap namamu di jantung doa.

Tj. Priok, 24 September 2015




/2/
September

Tiba saat musim merebahkan diri
di pangkal September,
bersama kemarau yang tak kunjung pergi,
bersama bayangmu yang sayup dan sepi.

Langit yang lengang telah tergelar sempurna.
Impian yang asing telah meruap ke puncak cuaca.
Di bentangan rindu, namamu menggema sebagai doa,
bait-bait rahasia yang kutanam di rahim kata.

Lihatlah musim yang membisu indah di ambang senja.
Nyanyi sunyi yang merambat pada warna pepohon tua.
Ke ceruk angkasa, kukembalikan seikat kisah dan luka.
Meniti kembali nasib hingga dekapan takdir tiba.

Tj. Priok, 14 September 2015.


/3/
Sepasang Mata yang Temaram

Di lengkung hari terbenam
rindu adalah sepasang mata yang temaram.
Laut-laut tua di kejauhan
melambai mengundang beribu kesepian.

Segera maghrib menjelma bayang-bayang,
Melintas kawanan burung beranjak pulang.
Lantas ke manakah aku harus pulang
selepas terhempas di rembang gelombang?

Jauh di bentang utara impian-impian berlayar.
Resah yang ganjil merusuh di debar lautan.
Tak kutahu akhir dari perjalanan yang samar.
Hanya doa, tempat segala rahasia kuserahkan.


Tj. Priok, 11 Februari-25 Desember 2015