Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 September 2017

Laut Tua Ini Seperti Ingin Bercerita

Laut tua ini seperti ingin bercerita
tetapi aku tak memahami bahasa laut.
Aku hanya bisa merasakan gemuruh ombaknya
mendenyutkan rindu yang tak pernah surut.

Laut tua ini seperti ingin bercerita
lewat malam yang merawat dongeng-dongeng purba
tentang rasi dan galaksi nun jauh di sana,
muasal segala impian anak manusia.

Laut tua ini seperti ingin bercerita
lewat debur gelombang yang membasuh kaki dermaga
tentang angin musim yang mengalunkan doa-doa
dan namamu yang tersembunyi di kedalaman rahasia.

(2016)
Dimas Albiyan

*Puisi ini pernah dimuat di majalah sastra dan budaya Kanal Vol. III Edisi V, April 2017 

Kamis, 03 Agustus 2017

Istiqlal

Senja tergelar di serambi Istiqlal.
Tiba kembali di tempat ini,
menikmati mahakarya Frederich Silaban,
masjid yang dibangun di atas reruntuhan benteng kolonial.
Sesekali terlihat juga burung lintas di udara
dalam lanskap awan dan langit di selatan.
Kududuk di sini menuguri waktu senja.
Menanti maghrib membentang di langit ibukota.


(Dimas Albiyan)


Minggu, 02 Juli 2017

Wiji Thukul dan Kata-kata yang Tak Kunjung Binasa

“Setiap kali kepala seorang sastrawan dipenggal, kebenaran dalam sastra itu akan menitis ke kepala seribu sastrawan lain.” (Seno Gumira Ajidarma)
“Aku masih utuh dan kata-kata belum binasa.” (Wiji Thukul)

      Wiji Thukul adalah sosok yang menarik dalam sejarah kesusastraan maupun perpolitikan di Indonesia. Sebagai seorang penyair, ia mungkin bukan yang paling cemerlang dalam dunia perpuisian di negeri ini. Akan tetapi sejarah telah mencatat namanya, sebagai seorang penyair sekaligus aktivis yang ikut berjuang melawan tindak kesewenang-wenangan sebuah rezim yang pernah berkuasa di negeri ini.
    Puisi-puisinya berkarakter khas: lugas, berani, dan mudah dipahami. Alih-alih berbicara tentang keindahan atau romantisme, puisi-puisi Wiji Thukul justru berbicara tentang kehidupan rakyat kecil, kemiskinan, perlawanan terhadap penindasan, dan persoalan hidup sehari-hari yang mungkin kerap luput dari pandangan kita.  
Wiji Thukul memang berasal dari keluarga rakyat kecil yang hidupnya lekat dengan kemiskinan. Ia tumbuh di Kampung Kalangan yang terletak di sisi timur kota Solo. Milieu kampung ini adalah pabrik-pabrik dengan segala buruhnya. Ayah Thukul seorang penarik becak, istrinya buruh menjahit, dan mertuanya pedagang barang rongsokan. Sementara Thukul sendiri pernah bekerja sebagai pelitur mebel.[1] Rupanya pengalaman hidup Thukul yang lekat dengan kemiskinan dan masyarakat lapisan bawah inilah yang lambat-laun mengendap dalam dirinya, dan kemudian ia tuangkan ke dalam puisi-puisinya.
Thukul muda tumbuh di tengah kekuasaan sebuah rezim bernama Orde Baru. Sebuah rezim otoriter, yang mana pada masanya kebebasan berpendapat menjadi suatu hal yang sangat mahal.  Demokrasi dibungkam, sementara praktik KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) merajalela di mana-mana. Kondisi negeri yang memperihatinkan ini bahkan juga diikuti oleh tindak kekerasan yang kerap dilakukan oleh militer terhadap rakyat sipil. Mari kita ingat kembali tragedi Tanjung Priok 1984, Lampung 1989, dan kasus Marsinah. Kondisi sosial negara seperti inilah yang menumbuhkan benih kesadaran dalam diri Thukul untuk melawan segala bentuk tindak kesewenangan itu.  Kesadaran yang kemudian juga diikuti dengan lahirnya sejumlah puisi Thukul yang memotret tentang kemiskinan, penindasan, ekploitasi buruh di pabrik, ketidakadilan hukum, tindakan represif penguasa, dan kekerasan militer terhadap rakyat sipil.
Wiji Thukul tidak sekedar berjuang melalui kata-kata. Bersama kelompok seninya, ia juga kerap menggelar pementasan teater yang mengekspresikan penindasaan dan problem riil masyarakat. Intensitas keterlibatannya dalam berbagai aksi protes juga semakin tinggi. Represi pun mulai meningkat. Tak jarang pentas-pentas teaternya dibubarkan oleh aparat. Rumahnya beberapa kali digeledah. Bahkan, dalam sebuah aksi protes buruh P.T. Sritex di Solo pada tahun 1995, ia mengalami siksaan berat dari aparat sampai telinganya nyaris tuli dan matanya sempat dioperasi.[2] Kala itu aparat mengincar Thukul karena ia diduga sebagai dalang demonstrasi tersebut. Segala bentuk tindakan represi yang Thukul terima itu ternyata tidak membuat semangat perlawanannya menjadi surut. Sebaliknya, itu semua justru membuat keyakinannya semakin kuat untuk melawan segala tindak kesewenangan yang telah ia saksikan dan alami sendiri.
Melalui aksi protes dan puisi-puisinya, Wiji Thukul telah memilih jalan hidupnya sendiri, yakni berjuang melawan segala bentuk penindasan yang dilakukan oleh penguasa Orde Baru terhadap rakyatnya. Sebuah pilihan yang akhirnya membuat ia mendapatkan cap sebagai musuh penguasa dan dianggap sebagai pemberontak. Tentu ini sebuah pilihan yang tak mudah, yang juga harus dibayar mahal olehnya. Ia lantas menjadi korban praktik penghilangan orang. Bersama dengan sejumlah aktivis lainnya, ia menjadi korban penculikan pada tahun 1998 yang dilakukan oleh rezim kala itu.
Wiji Thukul sendiri sampai saat ini tidak diketahui keberadaannya, entah masih hidup atau tidak. Jika dikatakan sudah meninggal, sampai sekarang jasadnya pun belum diketemukan. Ia dilaporkan hilang oleh istrinya, Sipon, setelah tragedi krisis 1998. Banyak kerabat Thukul yang yakin, bahwa Thukul sudah dilenyapkan oleh rezim Orde Baru, yang kadung mencapnya sebagai seorang musuh yang dianggap hendak menjatuhkan penguasa.
Akhirnya, keberadaan Wiji Thukul hingga saat ini terus menjadi misteri yang tak terungkapkan. Usaha pemerintah untuk mengungkap kasus yang melibatkan Thukul sebagai korban itu pun tak jua dilakukan. Thukul hilang meninggalkan istrinya, Sipon dan dua orang anaknya, Fitri Nganti Wani dan Fajar Merah.
“Setiap kali kepala seorang sastrawan dipenggal, kebenaran dalam sastra itu akan menitis ke kepala seribu sastrawan lain," begitu ujar Seno Gumira Ajidarma dalam kumpulan esainya, Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara. Barangkali hal yang demikian ini terjadi pada diri Wiji Thukul. Jasad Thukul boleh dilenyapkan, akan tetapi karya dan semangat perlawanannya terus hidup hingga saat ini. Ia terus menitis ke kepala setiap orang yang mengkhidmati puisi-puisinya dan meresapi perjuangannya. Dengan kata lain, Wiji Thukul terus tumbuh dan tetap utuh, seperti yang pernah ia katakan dalam sebuah puisinya: “Aku masih utuh dan kata-kata belum binasa!"

Tanjung Priok, 1 Juli 2017
Dimas Albiyan




      [1]   Ton, “Penyair Wiji Thukul, Pemotret Kemiskinan dan Kekejaman”, (Jakarta: Warta Kota, Tahun II nomor 82, Minggu, 30 Juli 2000), h. 10.
    [2] Ihs, ”Wiji Thukul Benih yang Terus Tumbuh”, (Jakarta: Pembebasan Edisi 18/V/Juli 2000), h.20  

Rabu, 07 Juni 2017

Malahayati

Di Teluk Lamreh Krueng Raya,
dengan gagah
Puan jaga bumi darussalam tercinta.
Laut Malaka pun berkobar
dalam jiwa bahari Puan
menanti penjajah menyerang di hadapan.

Bergelar laksamana,
Puan adalah kemala kehidupan.
Di belakang Puan,
pekik 2000 prajurit inong balee
isyaratkan geletar pertempuran.

“Ayo! Serang lawan!!!”
Dengan rencong di tangan,
pekik Puan memekakkan arena perang.

Maka angkasa pun gemetar
hingga tersiarlah sebuah kabar
ihwal armada musuh yang menggelepar
dengan pemimpin mereka
yang tewas terbunuh di geladak kapal.

Di bumi darussalam tercinta,
Puan membaktikan diri,
mengabdi
atas nama rakyat, tanah air, dan leluhur di surga.
Puan membaktikan diri,
mengabdi
dengan sepenuh cinta
seharum bunga cempaka.

Dimas Albiyan
20 April 2014

*Laksamana Malahayati:
Nama lengkapnya adalah Keumalahayati. Beliau adalah perempuan pejuang sekaligus perempuan pertama yang diangkat menjadi laksamana di Kesultanan Aceh Darussalam,  serta memimpin 2000 prajurit Inong Balee. Pada Juni 1599, di Aceh  terjadi pertempuran antara Kesultanan Aceh dengan armada Belanda yang dimpin oleh Cornelis De Houtman. Kala itu Laksamana Malahayati ditunjuk sebagai pemimpin perlawanan yang berujung pada kemenangan Kesultanan Aceh dan kekalahan armada Belanda yang disertai dengan terbunuhnya Cornelis De Houtman.
**Teluk Lamreh Krueng Raya: Pangkalan militer Laksamana Malahayati beserta armada perangnya.
***Inong Balee: Armada perang yang dipimpin oleh Laksamana Malahayati yang beranggotakan 2000 prajurit perempuan.


Rabu, 21 Desember 2016

Dua Puisi Saya: Dimuat di Surat Kabar Pikiran Rakyat Edisi 18 Desember 2016

/1/
Bandung, 2016

Ada kesenyapan yang asing
di kota tempatmu tumbuh beranjak
menjadi kupu-kupu dewasa.
Langit dan maghrib berkelindan,
jalanan menjelma sungai cahaya
dalam pelukan musim yang dingin dan muram.
Ada sepatah ucapan “selamat tinggal”
yang ingin namun tak sanggup kuucapkan.
Ada nyeri yang tak tertafsirkan
bermukim di degup jantung yang temaram.
Di jalan pulang, kucatat sunyi ini kembali
yang berkisar antara bayangmu
dan kota yang kian balam.
Di jalan pulang,
di antara muram lampu jalan dan kendaraan,
kusembunyikan rindu ini kembali,
meninggalkan jejakmu jauh di selatan.

/2/
Lagu Musim Sunyi

Musim yang sunyi. 
Langit tenteram di dini hari.
Kau berkata, "tiba waktunya untuk kembali"
entah kepada siapa.
Fajar jauh. Cahaya jauh.
Angin Juni melintas di beranda.
Dan kau masih terjaga,
menafsirkan impian dan keresahan manusia
di antara keheningan kata-kata.






Rabu, 06 Juli 2016

Kwatrin Hari Lebaran

/1/
KWATRIN MENJELANG LEBARAN

Lebaran mulai menyingkapkan semarak sosoknya
di tengah gejolak pemilu yang belum ketemu ujungnya.
Berbondong orang meninggalkan gempita ibukota,
menuju dekapan desa yang nyaman dan bersahaja.

Tj. Priok, 26 Juli 2014

/2/
MALAM TAKBIRAN

Lengkingan takbir menjalar sampai ke sulur-sulur gang,
seusai sidang isbat dan awal Syawal ditetapkan.
Di serambi masjid, anak-anak menabuh beduk dengan riang.
Di rumah, para ibu menyiapkan opor dan ketupat lebaran.

/3/
KWATRIN HARI LEBARAN

Genta takbir mengudara dari menara masjid.
Tumpah manusia di gang-gang pemukiman kota.
Matahari menyaksikan dari ufuk timur langit:
Bani Adam saling berpeluk penuh bahagia.

/4/
ZIARAH LEBARAN

Di perut kubur, riwayat tak menjadi tilas.
Silsilah darah yang mengucur di nadi kami.
Doa-doa dirapalkan, seiring daun-daun yang melaras.
Semoga engkong dan nenek bahagia, dalam dekapan bumi.

Tj. Priok, 29 Juli 2014

*Puisi-puisi ini saya tulis pada suasana Lebaran dua tahun lalu.

Jumat, 24 Juli 2015

Puisi Moon Chung Hee, Penyair Perempuan Korea Selatan

/1/
SESUATU YANG TAK BISA DIMILIKI SENDIRIAN

sesuatu yang paling indah
diciptakan agar tak tersentuh
senyum hijau mengembang
di antara bebunga pepohonan

sesuatu yang paling berharga
diciptakan agar tak dimiliki sendirian
gadis-gadis di penanggalan yang baru digantung
kata-kata permata, menunggu untuk digubah

sesuatu yang paling disayang
diciptakan agar menguak begitu saja
cahaya bintang berkilauan
di dalam tatapan mata kita


/2/
LAGU ORANG MILITER

mungkin kalian tak tahu
tapi tiap perempuan yang lahir di negeri ini
pasti pernah jatuh cinta pada orang militer
tiap lelaki muda di negeri ini pernah ke DMZ*
mempertarungkan nyawa sepanjang usia remajanya
sambil membidikkan senjata pada saudaranya
yang kini jadi musuh
dengan putus asa mereka belajar kerinduan dan penderitaan
jadi tiap perempuan di negeri ini
semasa muda menulis surat untuk menyenangkan
orang militer
yang sejak lajang berdiam di kamp-kamp militer
tapi cinta itu seringkali tak meranum
pada suatu petang di pertengahan umurnya
perempuan itu bertemu cinta lama, yang bukan
orang militer lagi
di sudut jalan dan tak bisa berbalik, mereka gugup dan malu
dan diam-diam terisak
mereka menyesali batas pemisah itu
yang lebih berkarat daripada kawat berduri di DMZ
mungkin kau tak tahu
tapi tiap perempuan di negeri ini
pasti pernah jatuh cinta pada orang militer

*DMZ adalah singkatan dari Demilitarized Zone, yang berarti daerah gencatan senjata di perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara. DMZ dibuat setelah perang saudara (1950-1953)


/3/
KEBOHONGAN

seandainya aku bertemu cinta lamaku lagi
di sebuah pub di Gangnam
dan mengaku dengan suara gemetar
"aku tak pernah melupakanmu selama ini"
apakah itu benar?
walau kami segera sadar kata-kata itu bohong
tapi juga tak sepenuhnya tidak benar
ketika kami berbagi minuman di tengah kabut
kehidupan masa lalu larut seperti kebohongan
seperti kebenaran
ketika kami menyadari kefanaan itu
kata-kata yang hanyut seolah gelombang laut
lalu siapakah kami?
pujangga?


/4/
DI MANA RUMAHKU

rahim ibuku rumah pertamaku
sudah berubah jadi debu di pemakaman Taman Ilsan
rumah di jalan Wonhyo-ro tempat tinggalku
ketika pindah ke Seoul semasa kanak-kanak
sekarang menjadi klinik operasi plastik
rumah semasa SMP-ku di Mapo
tempat propaganda pemerintah membuat telingaku terbiasa
sudah berganti jadi kantor kata
pulau di tengah sungai itu pun sudah tidak ada
SMA Putri Jinmyeong, almamaterku, dekat Gedung Genting Biru
sudah jadi institusi pemerintah
rumah semasa kuliah di universitas di Sangdo-dong
sudah menjadi hotel murah
rumah pengantin baruku di Gui-dong
tempat sesekali kedengaran katak mengoak
sudah jadi toko kelontong
hari ini aku diusir dari villa putih
dekat jembatan Yeong-dong
terpaksa mencari pondokan sementara
memandangi villa putih dirobohkan
atas nama pembangunan kembali
dengan semboyan "kepemilikan adalah kebanggaan!",
kulamunkan istana ajaib muncul di atasnya
sekarang di mana gerangan kuletakkan kenanganku
yang telah lama kusimpan sebagai endapan airmata
ibarat cinta sarat beban
kenangan memang gangguan belaka
tapi aku masih luntang-lantung menyeret kenangan itu
mungkin aku makhluk terakhir zaman ini
sebentar lagi akan diseret ke museum
hewan langka di sebuah kota gersang
tanpa wujudku sendiri
betulkah ini tanah airku?

/5/
NASI DINGIN

bangkit dari badan sakitku
dan makan nasi dingin sendirian
duri embun beku menusuk tenggorokanku
ada cukup banyak peralatan listrik di dapur
cukup menekan tombol dan nasi hangat pun bisa didapat
jadi hampir tak perlu makan nasi dingin
tapi hari ini aku makan nasi dingin sendiri
mengenang seorang perempuan
yang rajin menanak nasi hangat untuk keluarganya
tapi dia sendiri selalu makan nasi dingin
lauknya sebatang lobak dan tulang ikan
sisa makan orang lain
dia ikhlas makan nasi dingin dari mangkuk yang retak
tapi tubuhnya selalu memancarkan cinta paling hangat
aku rindu suara-suara piring waktu larut malam
dan tangannya yang sepi
hari ini aku bangkit dengan badan sakitku
dan makan nasi dingin
Tuhan tidak dapat hadir di tiap rumah, katanya
jadi Tuhan mengirimnya ke rumah-rumah.
aku menjumpainya di dalam nasi dingin
yang kumakan sendiri
hari ini
aku jadi nasi dingin di dunia


Puisi-puisi di atas dikutip dari kumpulan puisi Perempuan yang Membuat Air karya Moon Chung Hee terbitan Kepustakaan Popular Gramedia, September 2014.