Tampilkan postingan dengan label sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sajak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Agustus 2017

Istiqlal

Senja tergelar di serambi Istiqlal.
Tiba kembali di tempat ini,
menikmati mahakarya Frederich Silaban,
masjid yang dibangun di atas reruntuhan benteng kolonial.
Sesekali terlihat juga burung lintas di udara
dalam lanskap awan dan langit di selatan.
Kududuk di sini menuguri waktu senja.
Menanti maghrib membentang di langit ibukota.


(Dimas Albiyan)


Rabu, 07 Juni 2017

Malahayati

Di Teluk Lamreh Krueng Raya,
dengan gagah
Puan jaga bumi darussalam tercinta.
Laut Malaka pun berkobar
dalam jiwa bahari Puan
menanti penjajah menyerang di hadapan.

Bergelar laksamana,
Puan adalah kemala kehidupan.
Di belakang Puan,
pekik 2000 prajurit inong balee
isyaratkan geletar pertempuran.

“Ayo! Serang lawan!!!”
Dengan rencong di tangan,
pekik Puan memekakkan arena perang.

Maka angkasa pun gemetar
hingga tersiarlah sebuah kabar
ihwal armada musuh yang menggelepar
dengan pemimpin mereka
yang tewas terbunuh di geladak kapal.

Di bumi darussalam tercinta,
Puan membaktikan diri,
mengabdi
atas nama rakyat, tanah air, dan leluhur di surga.
Puan membaktikan diri,
mengabdi
dengan sepenuh cinta
seharum bunga cempaka.

Dimas Albiyan
20 April 2014

*Laksamana Malahayati:
Nama lengkapnya adalah Keumalahayati. Beliau adalah perempuan pejuang sekaligus perempuan pertama yang diangkat menjadi laksamana di Kesultanan Aceh Darussalam,  serta memimpin 2000 prajurit Inong Balee. Pada Juni 1599, di Aceh  terjadi pertempuran antara Kesultanan Aceh dengan armada Belanda yang dimpin oleh Cornelis De Houtman. Kala itu Laksamana Malahayati ditunjuk sebagai pemimpin perlawanan yang berujung pada kemenangan Kesultanan Aceh dan kekalahan armada Belanda yang disertai dengan terbunuhnya Cornelis De Houtman.
**Teluk Lamreh Krueng Raya: Pangkalan militer Laksamana Malahayati beserta armada perangnya.
***Inong Balee: Armada perang yang dipimpin oleh Laksamana Malahayati yang beranggotakan 2000 prajurit perempuan.


Rabu, 21 Desember 2016

Dua Puisi Saya: Dimuat di Surat Kabar Pikiran Rakyat Edisi 18 Desember 2016

/1/
Bandung, 2016

Ada kesenyapan yang asing
di kota tempatmu tumbuh beranjak
menjadi kupu-kupu dewasa.
Langit dan maghrib berkelindan,
jalanan menjelma sungai cahaya
dalam pelukan musim yang dingin dan muram.
Ada sepatah ucapan “selamat tinggal”
yang ingin namun tak sanggup kuucapkan.
Ada nyeri yang tak tertafsirkan
bermukim di degup jantung yang temaram.
Di jalan pulang, kucatat sunyi ini kembali
yang berkisar antara bayangmu
dan kota yang kian balam.
Di jalan pulang,
di antara muram lampu jalan dan kendaraan,
kusembunyikan rindu ini kembali,
meninggalkan jejakmu jauh di selatan.

/2/
Lagu Musim Sunyi

Musim yang sunyi. 
Langit tenteram di dini hari.
Kau berkata, "tiba waktunya untuk kembali"
entah kepada siapa.
Fajar jauh. Cahaya jauh.
Angin Juni melintas di beranda.
Dan kau masih terjaga,
menafsirkan impian dan keresahan manusia
di antara keheningan kata-kata.