Laut tua ini seperti ingin bercerita
tetapi aku tak memahami bahasa laut.
Aku hanya bisa merasakan gemuruh ombaknya
mendenyutkan rindu yang tak pernah surut.
Laut tua ini seperti ingin bercerita
lewat malam yang merawat dongeng-dongeng purba
tentang rasi dan galaksi nun jauh di sana,
muasal segala impian anak manusia.
Laut tua ini seperti ingin bercerita
lewat debur gelombang yang membasuh kaki dermaga
tentang angin musim yang mengalunkan doa-doa
dan namamu yang tersembunyi di kedalaman rahasia.
(2016)
Dimas Albiyan
*Puisi ini pernah dimuat di majalah sastra dan budaya Kanal Vol. III Edisi V, April 2017
Vokalis Kareina, penikmat musik, sastra, sepakbola, kopi. Seorang pemimpi yang terlahir untuk menang.
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 02 September 2017
Kamis, 03 Agustus 2017
Istiqlal
Senja tergelar di
serambi Istiqlal.
Tiba kembali di tempat
ini,
menikmati mahakarya
Frederich Silaban,
masjid yang dibangun di
atas reruntuhan benteng kolonial.
Sesekali terlihat juga
burung lintas di udara
dalam lanskap awan dan
langit di selatan.
Kududuk di sini
menuguri waktu senja.
Menanti maghrib
membentang di langit ibukota.
(Dimas Albiyan)
Minggu, 02 Juli 2017
Wiji Thukul dan Kata-kata yang Tak Kunjung Binasa
“Setiap kali kepala seorang sastrawan dipenggal,
kebenaran dalam sastra itu akan menitis ke kepala seribu sastrawan lain.” (Seno
Gumira Ajidarma)
“Aku masih utuh dan kata-kata belum binasa.” (Wiji
Thukul)
Wiji
Thukul adalah sosok yang menarik dalam
sejarah kesusastraan maupun perpolitikan di Indonesia. Sebagai seorang penyair,
ia mungkin bukan yang paling cemerlang dalam dunia perpuisian di negeri ini.
Akan tetapi sejarah telah mencatat namanya, sebagai seorang penyair sekaligus
aktivis yang ikut berjuang melawan tindak kesewenang-wenangan sebuah rezim yang
pernah berkuasa di negeri ini.
Puisi-puisinya berkarakter khas:
lugas, berani, dan mudah dipahami. Alih-alih berbicara tentang keindahan atau
romantisme, puisi-puisi Wiji Thukul justru berbicara tentang kehidupan rakyat
kecil, kemiskinan, perlawanan terhadap penindasan, dan persoalan hidup
sehari-hari yang mungkin kerap luput dari pandangan kita.
Wiji
Thukul memang
berasal dari keluarga rakyat kecil yang hidupnya lekat dengan kemiskinan. Ia
tumbuh di Kampung
Kalangan yang terletak di sisi timur kota Solo. Milieu kampung ini adalah pabrik-pabrik dengan segala buruhnya.
Ayah Thukul seorang penarik becak, istrinya buruh menjahit, dan mertuanya
pedagang barang rongsokan. Sementara Thukul
sendiri pernah bekerja sebagai pelitur mebel.[1] Rupanya pengalaman
hidup Thukul yang lekat dengan kemiskinan dan masyarakat lapisan bawah inilah yang lambat-laun
mengendap dalam dirinya,
dan kemudian ia tuangkan
ke dalam puisi-puisinya.
Thukul
muda tumbuh di tengah kekuasaan sebuah rezim bernama Orde Baru. Sebuah rezim
otoriter, yang mana pada masanya kebebasan berpendapat menjadi suatu hal yang
sangat mahal. Demokrasi dibungkam, sementara
praktik KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) merajalela di mana-mana. Kondisi
negeri yang memperihatinkan ini bahkan juga diikuti oleh tindak kekerasan yang
kerap dilakukan oleh militer terhadap rakyat sipil. Mari kita ingat kembali tragedi
Tanjung Priok 1984, Lampung 1989, dan kasus Marsinah. Kondisi sosial negara
seperti inilah yang menumbuhkan benih kesadaran dalam diri Thukul untuk melawan
segala bentuk tindak kesewenangan itu. Kesadaran
yang kemudian juga diikuti dengan lahirnya sejumlah puisi Thukul yang memotret tentang
kemiskinan, penindasan, ekploitasi buruh di pabrik, ketidakadilan hukum,
tindakan represif penguasa, dan kekerasan militer terhadap rakyat sipil.
Wiji
Thukul tidak sekedar berjuang melalui kata-kata. Bersama kelompok seninya, ia
juga kerap menggelar pementasan teater yang mengekspresikan penindasaan dan
problem riil masyarakat. Intensitas keterlibatannya dalam berbagai aksi protes
juga semakin tinggi. Represi pun mulai meningkat. Tak jarang pentas-pentas
teaternya dibubarkan oleh aparat. Rumahnya beberapa kali digeledah. Bahkan,
dalam sebuah aksi protes buruh P.T. Sritex di Solo pada tahun 1995, ia
mengalami siksaan berat dari aparat sampai telinganya nyaris tuli dan matanya
sempat dioperasi.[2]
Kala itu aparat mengincar Thukul karena ia diduga sebagai dalang demonstrasi
tersebut. Segala bentuk tindakan represi yang Thukul terima itu ternyata tidak
membuat semangat perlawanannya menjadi surut. Sebaliknya, itu semua justru membuat
keyakinannya semakin kuat untuk melawan segala tindak kesewenangan yang telah ia saksikan dan alami sendiri.
Melalui
aksi protes dan puisi-puisinya, Wiji Thukul telah memilih jalan hidupnya
sendiri, yakni berjuang melawan segala bentuk penindasan yang dilakukan oleh penguasa
Orde Baru terhadap rakyatnya. Sebuah pilihan yang akhirnya membuat ia
mendapatkan cap sebagai musuh penguasa dan dianggap sebagai pemberontak. Tentu
ini sebuah pilihan yang tak mudah, yang juga harus dibayar mahal olehnya. Ia
lantas menjadi korban praktik penghilangan orang. Bersama dengan sejumlah
aktivis lainnya, ia menjadi korban penculikan pada tahun 1998 yang dilakukan
oleh rezim kala itu.
Wiji
Thukul sendiri sampai saat ini tidak diketahui keberadaannya, entah masih hidup
atau tidak. Jika dikatakan sudah meninggal, sampai sekarang jasadnya pun belum
diketemukan. Ia dilaporkan hilang oleh istrinya, Sipon, setelah tragedi krisis 1998.
Banyak kerabat Thukul yang yakin, bahwa Thukul sudah dilenyapkan oleh rezim
Orde Baru, yang kadung mencapnya sebagai seorang musuh yang dianggap hendak
menjatuhkan penguasa.
Akhirnya,
keberadaan Wiji Thukul hingga saat ini terus menjadi misteri yang tak
terungkapkan. Usaha pemerintah untuk mengungkap kasus yang melibatkan Thukul
sebagai korban itu pun tak jua dilakukan. Thukul hilang meninggalkan
istrinya, Sipon dan dua orang anaknya, Fitri Nganti Wani dan Fajar Merah.
“Setiap
kali kepala seorang sastrawan dipenggal, kebenaran dalam sastra itu akan
menitis ke kepala seribu sastrawan lain," begitu ujar Seno Gumira Ajidarma
dalam kumpulan esainya, Ketika Jurnalisme
Dibungkam Sastra Harus Bicara. Barangkali hal yang demikian ini terjadi
pada diri Wiji Thukul. Jasad Thukul boleh dilenyapkan, akan tetapi karya dan
semangat perlawanannya terus hidup hingga saat ini. Ia terus menitis ke kepala
setiap orang yang mengkhidmati puisi-puisinya dan meresapi perjuangannya.
Dengan kata lain, Wiji Thukul terus tumbuh dan tetap utuh, seperti yang pernah ia katakan
dalam sebuah puisinya: “Aku masih utuh dan kata-kata belum binasa!"
Tanjung Priok, 1 Juli 2017
Dimas Albiyan
Tanjung Priok, 1 Juli 2017
Dimas Albiyan
Rabu, 07 Juni 2017
Malahayati
Di Teluk Lamreh
Krueng Raya,
dengan gagah
Puan jaga bumi darussalam tercinta.
Laut Malaka pun berkobar
dalam jiwa bahari Puan
menanti penjajah menyerang di hadapan.
Bergelar laksamana,
Puan adalah kemala kehidupan.
Di belakang Puan,
pekik 2000 prajurit inong balee
isyaratkan geletar pertempuran.
“Ayo! Serang lawan!!!”
Dengan rencong di tangan,
pekik Puan memekakkan arena perang.
Maka angkasa pun gemetar
hingga tersiarlah sebuah kabar
ihwal armada musuh yang menggelepar
dengan pemimpin mereka
yang tewas terbunuh di geladak kapal.
Di bumi darussalam tercinta,
Puan membaktikan diri,
mengabdi
atas nama rakyat, tanah air, dan leluhur di surga.
Puan membaktikan diri,
mengabdi
dengan sepenuh cinta
seharum bunga cempaka.
Dimas Albiyan
20 April 2014
*Laksamana Malahayati:
Nama lengkapnya adalah Keumalahayati. Beliau adalah
perempuan pejuang sekaligus perempuan pertama yang diangkat menjadi laksamana
di Kesultanan Aceh Darussalam, serta
memimpin 2000 prajurit Inong Balee. Pada Juni 1599, di Aceh terjadi
pertempuran antara Kesultanan Aceh dengan armada Belanda yang dimpin oleh
Cornelis De Houtman. Kala itu Laksamana Malahayati ditunjuk sebagai pemimpin
perlawanan yang berujung pada kemenangan Kesultanan Aceh dan kekalahan armada
Belanda yang disertai dengan terbunuhnya Cornelis De Houtman.
**Teluk Lamreh Krueng Raya: Pangkalan militer Laksamana
Malahayati beserta armada perangnya.
***Inong Balee: Armada perang yang dipimpin oleh
Laksamana Malahayati yang beranggotakan 2000 prajurit perempuan.
Selasa, 30 Mei 2017
Puisi "White Fields" Karya James Stephens (Terjemahan)
James Stephens
WHITE FIELDS
Tibalah musim dingin, aku pergi
berjalan menyusuri padang salju yang sunyi.
Tak sehelai rumput hijau terlihat.
Di atas kepala, langit adalah dinding yang likat.
Setiap pohon dan pagar
terselimuti warna putih yang tegar.
Terarahkan jalan yang kulalui sewaktu tiba
−semuanya tampak sama.
Nun di seberang padang ini
jejak-jejak keperakanku meniti.
Aku yakin mama selalu mengenali
jejak-jejak yang kutinggalkan di atas salju sunyi,
Mama
selalu mengetahui
ke mana
anaknya ini akan
pergi.
−Terjemahan
oleh Dimas Albiyan−
Catatan:
Saat sedang iseng membuka kolom catatan Facebook saya beberapa minggu yang
lalu, saya menemukan terjemahan puisi ini. Puisi “White Fields” karya James Stephens yang saya coba terjemahkan
sekitar tahun 2014. Saya pun jadi teringat, waktu itu, saya memang sedang senang-senangnya belajar menerjemahkan
puisi asing setelah membaca salah satu tulisan dari Sapardi Djoko Damono. Saya
lupa di mana saya membaca tulisan itu. Saya cuma ingat, di tulisan tersebut, Sapardi
kurang-lebih mengatakan, bahwa salah satu cara belajar menulis puisi yang
efektif adalah dengan cara menerjemahkan puisi asing.
Maka saya ikuti tips
dari beliau itu. Lantas saya pergi ke perpustakaan kampus untuk mencari buku-buku
kumpulan puisi berbahasa Inggris dan meminjamnya beberapa buah. Perihal
buku-buku kumpulan puisi berbahasa Inggris yang saya pinjam ini saya lupa-lupa
ingat. Seingat saya ada antologi puisi Anna Akhmatova (penyair asal Rusia) dan
antologi puisi Denmark modern. Kedua buku ini adalah buku terjemahan yang
diterjemahkan dari bahasa aslinya ke dalam bahasa Inggris. Saya juga agak lupa
di buku yang mana saya menemukan puisi “White
Fields” karya James Stephens ini. Kalau tidak salah sih di sebuah buku yang judulnya American Modern Poems. Ya, kalau tidak salah.
Lantas dengan
bermodalkan kemampuan berbahasa Inggris yang pas-pasan dan dibantu dengan sebuah kamus, saya pun mencoba
menerjemahkan beberapa puisi berbahasa Inggris dari buku-buku yang saya pinjam itu.
Cara saya memilih puisi-puisi mana yang akan saya terjemahkan sederhana saja,
yakni puisi yang pendek, kata-katanya tidak terlalu rumit, dan saya suka. Ternyata
puisi “White Fields” karya James
Stephens ini menjadi salah satu puisi yang memenuhi “kriteria” tersebut, dan
saya pun mencoba mengalihbahasakannya ke dalam bahasa Indonesia sebisanya.
Jika dibandingkan
antara hasil yang saya coba terjemahkan ini dengan puisi yang asli (yang
ditulis dalam bahasa aslinya), maka akan ditemukan cukup banyak perbedaan di
antara keduanya. Ada beberapa kata dan baris yang terjemahannya tidak persis
sesuai dengan yang asli, beberapa kata saya tukar letaknya, bahkan saya
menambahkan satu larik di bagian akhir puisi ini. Semua itu saya lakukan selain
karena memang penguasaan bahasa Inggris saya yang kurang memadai, juga karena
untuk mengejar bentuk pengucapan dan rima yang menurut saya enak (walaupun
mungkin menurut orang yang membacanya tidak).
Di samping dua hal
tersebut, ada alasan lain yang membuat saya tetap “nekat” mencoba menerjemahkan
puisi “White Fields” ini ke dalam
Bahasa Indonesia, meskipun dengan kemampuan yang seadanya dan ada beberapa bagian yang berbeda dengan aslinya.
Alasan itu adalah sebuah pernyataan Sapardi dalam bukunya yang berjudul Sastra Bandingan. Di salah satu bab yang
membahas seputar penerjemahan karya sastra, Sapardi mengatakan bahwa
penerjemahan karya sastra tidak usah dianggap sebagai usaha mati-matian untuk
menjadi karya yang sama dengan aslinya (Editum, 2009: h. 96). Pendapat Sapardi
itulah yang mendorong saya untuk tetap mencoba menerjemahkan puisi ini sebagai
proses belajar menulis puisi meskipun mungkin hasilnya tidak terlalu persis
dengan yang aslinya..
Dari proses belajar
menerjemahkan ini, saya mendapati sebuah kenyataan, bahwa ternyata proses
menerjemahkan puisi asing itu cukup sulit. Saya setuju dengan pendapat bahwa
orang yang melakukan penerjemahan karya sastra harus menguasai bahasa sumber
dan bahasa target sama baiknya. Di samping itu, ia juga harus memahami konteks bahasa, sosial,
dan budaya yang terkandung dalam karya itu. Dari kedua kriteria di atas sudah
jelas bahwa saya sebenarnya sangat tidak layak dan pantas untuk menerjemahkan
puisi ini. Tapi yah namanya juga
belajar. Terjemahan puisi ini pun bagian dari proses belajar saya itu. Jadi,
jika ditemukan banyak kekeliruan dan kekhilafan dalam penerjemahan ini, mohon
dimaafkan, ya....
Sebagai penutup, ini saya
kutipkan puisi “White Fields” karya
James Stephens dalam bahasa aslinya. Menurut saya, puisi ini adalah sebuah
puisi yang indah dan merupakan salah satu puisi favorit saya.
Akhir kata, selamat
menikmati!
Salam.
-Tj.
Priok, 23 Mei 2017-
White Fields
I
In the winter time we go
Walking in the fields of snow;
Where there is no grass at all;
Where the top of every wall,
Every fence, and every tree,
Is as white as white can be.
II
Pointing out the way we came,
-Every one of them the same-
All across the fields there be
Prints in silver filigree;
And our mothers always know,
By the footprints in the snow,
Where it is the children go.
In the winter time we go
Walking in the fields of snow;
Where there is no grass at all;
Where the top of every wall,
Every fence, and every tree,
Is as white as white can be.
II
Pointing out the way we came,
-Every one of them the same-
All across the fields there be
Prints in silver filigree;
And our mothers always know,
By the footprints in the snow,
Where it is the children go.
Rabu, 21 Desember 2016
Dua Puisi Saya: Dimuat di Surat Kabar Pikiran Rakyat Edisi 18 Desember 2016
/1/
Bandung, 2016
Ada
kesenyapan yang asing
di
kota tempatmu tumbuh beranjak
menjadi
kupu-kupu dewasa.
Langit
dan maghrib berkelindan,
jalanan
menjelma sungai cahaya
dalam
pelukan musim yang dingin dan muram.
Ada
sepatah ucapan “selamat tinggal”
yang
ingin namun tak sanggup kuucapkan.
Ada
nyeri yang tak tertafsirkan
bermukim
di degup jantung yang temaram.
Di
jalan pulang, kucatat sunyi ini kembali
yang
berkisar antara bayangmu
dan
kota yang kian balam.
Di
jalan pulang,
di
antara muram lampu jalan dan kendaraan,
kusembunyikan
rindu ini kembali,
meninggalkan
jejakmu jauh di selatan.
/2/
Lagu Musim Sunyi
Musim yang sunyi.
Langit tenteram di dini hari.
Kau berkata, "tiba waktunya untuk kembali"
entah kepada siapa.
Fajar jauh. Cahaya jauh.
Angin Juni melintas di beranda.
Dan kau masih terjaga,
menafsirkan impian dan keresahan manusia
di antara keheningan kata-kata.
Senin, 05 Desember 2016
Tiga Puisi di Pertemuan Kecil
Tiga
puisi ini dimuat di surat kabar Pikiran
Rakyat dua tahun yang lalu, tetapi saya baru tahu mengenai pemuatannya dua
hari yang lalu, saat melihat sebuah pesan di kotak masuk surel yang belum saya baca.
Pada
Minggu siang, saya tengah mencari alamat surel sepupu saya di kotak masuk untuk
sebuah keperluan, ketika melihat sebuah pesan yang belum saya baca. Pesan itu ternyata
dari redaksi Pikiran Rakyat yang
dikirim pada 25 September 2014, dua tahun yang lalu. Isi pesan itu adalah
sebuah pemberitahuan, bahwa jika tidak ada halangan, tiga buah puisi saya akan
dimuat di surat kabar tersebut pada edisi Minggu, 28 September 2014 dalam rubrik
Pertemuan Kecil. Tentu saya terkejut
ketika membacanya. Saya pun jadi teringat kalau saya pernah mengirim beberapa puisi ke
surat kabar itu sekitar dua tahun yang lalu. Saya mengirimnya lewat surel di
sebuah warnet di samping kampus.
Oleh
karena saya penasaran ingin melihat apakah benar ketiga puisi saya dimuat, saya mencoba mencari file PDF surat kabar Pikiran Rakyat edisi 28 September 2014
tersebut di Google, dan alhamdulillah ketemu.
Sebagaimana isi pesannya, ketiga puisi itu dimuat di rubrik Pertemuan Kecil, halaman 23.
Bisa
melihat puisi yang saya tulis dimuat di koran, saya hanya bisa bersyukur, dan mudah-mudahan
ini bisa menjadi pelecut semangat saya untuk terus menulis, dan terus menulis.
***
/1/
Hikayat
Mahabrata: Bhisma
Pujangga
titahkan
takdir
menjelma
anak panah
dalam
bidikan dara.
“Amba,
kekasihku, aku sudah siap.
Bunuhlah
aku sekarang!”
Tetapi
dara itu menjadi sedikit ragu.
Ia
tatap lekat-lekat
kedua
mata Bhisma yang pasrah –
yang
ia rasakan seperti sebuah lorong dejavu
atau
mungkin sebuah kisah cinta platonik
yang
tak pernah tertakdirkan.
“Aku
masuki kecamuk Baratayuda ini
memang
untuk membunuhmu.
Tetapi
maaf, Tuan! Aku bukan Amba,
aku
Srikandi!”
Lirih,
Bhisma tersenyum,
sedang dara itu kembali bersiap
membidik
anak panahnya
tepat
ke arah jantung Bhisma.
“Jika
engkau memang benar-benar lupa,
maka
kumohon
anggap
saja sekarang dirimu adalah Amba kekasihku,
agar
aku tenang
menjemput
getirnya mautku.
Maafkan
aku, Amba,
yang
dulu pernah mencampakkanmu!
Maafkan
aku!
Sesungguhnya,
aku
sangat ..................
.....................................”
Langit Kurusetra
merah dan kelam.
Lirih, Bhisma
tersenyum menatap dara
sebelum tubuh
rentanya
tumbang.
(2014)
/2/
Hikayat
Ramayana: Sinta kepada Rama
Sebab
akulah api
maka
jangan engkau menyentuhku lagi,
wahai
lelaki yang menamakan dirinya suci!
Memang
engkaulah
yang
telah membebaskan aku dari Dasamuka,
tetapi
engkau pula
yang
telah memaksakan aku menjelma api
dengan
keraguanmu yang menjadi-jadi.
Engkau
mencintai aku.
Aku
lebih mencintai engkau.
Tapi
jangan engkau menyentuhku lagi,
sebab
akulah api!
(2014)
/3/
Percakapan Rama
dengan Lesmana
“Akan
kutempuh Gunung Reksamuka, Negeri Alengka,
bahkan
Nirwana,
untuk
kembali bisa menyentuhmu,
Sinta.”
Begitulah,
kesatria itu terus
bergumam--
dengan
intonasi yang muram
seperti
elegi yang kelam
sepanjang
malam.
Sementara
hutan pun semakin dalam.
Sepotong
bulan
adalah
lentera yang temaram.
Mereka
terus jalan.
“Tapi,
Lesmana, wahai adikku,
apakah
Sinta masih mau menerimaku,
lelaki
peragu yang telah membiarkannya pergi
ke
sisi Rahwana?
Dan
apakah aku harus mengalahkan Rahwana
musuhku,
untuk
kembali dalam dekapan Sinta,
sekalipun
harus dengan peperangan akbar
yang
menumbalkan jutaan nyawa?”
“Maafkanlah
kelancanganku, Kanda Ramawijaya,
sesungguhnya, musuh sejatimu – yang harus kaukalahkan
bukanlah
Rahwana,
tetapi
tidak lain adalah keragu-raguanmu,
sedang di sisi lain, Dewi Sinta
tak
pernah sedikitpun meragukanmu.”
(2013-2014)
Rabu, 06 Juli 2016
Kwatrin Hari Lebaran
/1/
KWATRIN MENJELANG LEBARAN
Lebaran mulai menyingkapkan semarak
sosoknya
di tengah gejolak pemilu yang belum ketemu
ujungnya.
Berbondong orang meninggalkan gempita
ibukota,
menuju dekapan desa yang nyaman dan
bersahaja.
Tj. Priok, 26 Juli 2014
/2/
MALAM TAKBIRAN
Lengkingan takbir menjalar sampai ke
sulur-sulur gang,
seusai sidang isbat dan awal Syawal
ditetapkan.
Di serambi masjid, anak-anak menabuh
beduk dengan riang.
Di rumah, para ibu menyiapkan opor dan
ketupat lebaran.
/3/
KWATRIN HARI LEBARAN
Genta takbir mengudara dari menara
masjid.
Tumpah manusia di gang-gang pemukiman
kota.
Matahari menyaksikan dari ufuk timur
langit:
Bani Adam saling berpeluk penuh bahagia.
/4/
ZIARAH LEBARAN
Di perut kubur, riwayat tak menjadi
tilas.
Silsilah darah yang mengucur di nadi
kami.
Doa-doa dirapalkan, seiring daun-daun
yang melaras.
Semoga engkong dan nenek bahagia, dalam
dekapan bumi.
Tj. Priok, 29 Juli 2014
Jumat, 24 Juli 2015
Puisi Moon Chung Hee, Penyair Perempuan Korea Selatan
/1/
SESUATU YANG TAK BISA DIMILIKI SENDIRIAN
sesuatu yang paling indah
diciptakan agar tak tersentuh
senyum hijau mengembang
di antara bebunga pepohonan
sesuatu yang paling berharga
diciptakan agar tak dimiliki sendirian
gadis-gadis di penanggalan yang baru digantung
kata-kata permata, menunggu untuk digubah
sesuatu yang paling disayang
diciptakan agar menguak begitu saja
cahaya bintang berkilauan
di dalam tatapan mata kita
/2/
LAGU ORANG MILITER
mungkin kalian tak tahu
tapi tiap perempuan yang lahir di negeri ini
pasti pernah jatuh cinta pada orang militer
tiap lelaki muda di negeri ini pernah ke DMZ*
mempertarungkan nyawa sepanjang usia remajanya
sambil membidikkan senjata pada saudaranya
yang kini jadi musuh
dengan putus asa mereka belajar kerinduan dan penderitaan
jadi tiap perempuan di negeri ini
semasa muda menulis surat untuk menyenangkan
orang militer
yang sejak lajang berdiam di kamp-kamp militer
tapi cinta itu seringkali tak meranum
pada suatu petang di pertengahan umurnya
perempuan itu bertemu cinta lama, yang bukan
orang militer lagi
di sudut jalan dan tak bisa berbalik, mereka gugup dan malu
dan diam-diam terisak
mereka menyesali batas pemisah itu
yang lebih berkarat daripada kawat berduri di DMZ
mungkin kau tak tahu
tapi tiap perempuan di negeri ini
pasti pernah jatuh cinta pada orang militer
*DMZ adalah singkatan dari Demilitarized Zone, yang berarti daerah gencatan senjata di perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara. DMZ dibuat setelah perang saudara (1950-1953)
/3/
KEBOHONGAN
seandainya aku bertemu cinta lamaku lagi
di sebuah pub di Gangnam
dan mengaku dengan suara gemetar
"aku tak pernah melupakanmu selama ini"
apakah itu benar?
walau kami segera sadar kata-kata itu bohong
tapi juga tak sepenuhnya tidak benar
ketika kami berbagi minuman di tengah kabut
kehidupan masa lalu larut seperti kebohongan
seperti kebenaran
ketika kami menyadari kefanaan itu
kata-kata yang hanyut seolah gelombang laut
lalu siapakah kami?
pujangga?
/4/
DI MANA RUMAHKU
rahim ibuku rumah pertamaku
sudah berubah jadi debu di pemakaman Taman Ilsan
rumah di jalan Wonhyo-ro tempat tinggalku
ketika pindah ke Seoul semasa kanak-kanak
sekarang menjadi klinik operasi plastik
rumah semasa SMP-ku di Mapo
tempat propaganda pemerintah membuat telingaku terbiasa
sudah berganti jadi kantor kata
pulau di tengah sungai itu pun sudah tidak ada
SMA Putri Jinmyeong, almamaterku, dekat Gedung Genting Biru
sudah jadi institusi pemerintah
rumah semasa kuliah di universitas di Sangdo-dong
sudah menjadi hotel murah
rumah pengantin baruku di Gui-dong
tempat sesekali kedengaran katak mengoak
sudah jadi toko kelontong
hari ini aku diusir dari villa putih
dekat jembatan Yeong-dong
terpaksa mencari pondokan sementara
memandangi villa putih dirobohkan
atas nama pembangunan kembali
dengan semboyan "kepemilikan adalah kebanggaan!",
kulamunkan istana ajaib muncul di atasnya
sekarang di mana gerangan kuletakkan kenanganku
yang telah lama kusimpan sebagai endapan airmata
ibarat cinta sarat beban
kenangan memang gangguan belaka
tapi aku masih luntang-lantung menyeret kenangan itu
mungkin aku makhluk terakhir zaman ini
sebentar lagi akan diseret ke museum
hewan langka di sebuah kota gersang
tanpa wujudku sendiri
betulkah ini tanah airku?
/5/
NASI DINGIN
bangkit dari badan sakitku
dan makan nasi dingin sendirian
duri embun beku menusuk tenggorokanku
ada cukup banyak peralatan listrik di dapur
cukup menekan tombol dan nasi hangat pun bisa didapat
jadi hampir tak perlu makan nasi dingin
tapi hari ini aku makan nasi dingin sendiri
mengenang seorang perempuan
yang rajin menanak nasi hangat untuk keluarganya
tapi dia sendiri selalu makan nasi dingin
lauknya sebatang lobak dan tulang ikan
sisa makan orang lain
dia ikhlas makan nasi dingin dari mangkuk yang retak
tapi tubuhnya selalu memancarkan cinta paling hangat
aku rindu suara-suara piring waktu larut malam
dan tangannya yang sepi
hari ini aku bangkit dengan badan sakitku
dan makan nasi dingin
Tuhan tidak dapat hadir di tiap rumah, katanya
jadi Tuhan mengirimnya ke rumah-rumah.
aku menjumpainya di dalam nasi dingin
yang kumakan sendiri
hari ini
aku jadi nasi dingin di dunia
Puisi-puisi di atas dikutip dari kumpulan puisi Perempuan yang Membuat Air karya Moon Chung Hee terbitan Kepustakaan Popular Gramedia, September 2014.
SESUATU YANG TAK BISA DIMILIKI SENDIRIAN
sesuatu yang paling indah
diciptakan agar tak tersentuh
senyum hijau mengembang
di antara bebunga pepohonan
sesuatu yang paling berharga
diciptakan agar tak dimiliki sendirian
gadis-gadis di penanggalan yang baru digantung
kata-kata permata, menunggu untuk digubah
sesuatu yang paling disayang
diciptakan agar menguak begitu saja
cahaya bintang berkilauan
di dalam tatapan mata kita
/2/
LAGU ORANG MILITER
mungkin kalian tak tahu
tapi tiap perempuan yang lahir di negeri ini
pasti pernah jatuh cinta pada orang militer
tiap lelaki muda di negeri ini pernah ke DMZ*
mempertarungkan nyawa sepanjang usia remajanya
sambil membidikkan senjata pada saudaranya
yang kini jadi musuh
dengan putus asa mereka belajar kerinduan dan penderitaan
jadi tiap perempuan di negeri ini
semasa muda menulis surat untuk menyenangkan
orang militer
yang sejak lajang berdiam di kamp-kamp militer
tapi cinta itu seringkali tak meranum
pada suatu petang di pertengahan umurnya
perempuan itu bertemu cinta lama, yang bukan
orang militer lagi
di sudut jalan dan tak bisa berbalik, mereka gugup dan malu
dan diam-diam terisak
mereka menyesali batas pemisah itu
yang lebih berkarat daripada kawat berduri di DMZ
mungkin kau tak tahu
tapi tiap perempuan di negeri ini
pasti pernah jatuh cinta pada orang militer
*DMZ adalah singkatan dari Demilitarized Zone, yang berarti daerah gencatan senjata di perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara. DMZ dibuat setelah perang saudara (1950-1953)
/3/
KEBOHONGAN
seandainya aku bertemu cinta lamaku lagi
di sebuah pub di Gangnam
dan mengaku dengan suara gemetar
"aku tak pernah melupakanmu selama ini"
apakah itu benar?
walau kami segera sadar kata-kata itu bohong
tapi juga tak sepenuhnya tidak benar
ketika kami berbagi minuman di tengah kabut
kehidupan masa lalu larut seperti kebohongan
seperti kebenaran
ketika kami menyadari kefanaan itu
kata-kata yang hanyut seolah gelombang laut
lalu siapakah kami?
pujangga?
/4/
DI MANA RUMAHKU
rahim ibuku rumah pertamaku
sudah berubah jadi debu di pemakaman Taman Ilsan
rumah di jalan Wonhyo-ro tempat tinggalku
ketika pindah ke Seoul semasa kanak-kanak
sekarang menjadi klinik operasi plastik
rumah semasa SMP-ku di Mapo
tempat propaganda pemerintah membuat telingaku terbiasa
sudah berganti jadi kantor kata
pulau di tengah sungai itu pun sudah tidak ada
SMA Putri Jinmyeong, almamaterku, dekat Gedung Genting Biru
sudah jadi institusi pemerintah
rumah semasa kuliah di universitas di Sangdo-dong
sudah menjadi hotel murah
rumah pengantin baruku di Gui-dong
tempat sesekali kedengaran katak mengoak
sudah jadi toko kelontong
hari ini aku diusir dari villa putih
dekat jembatan Yeong-dong
terpaksa mencari pondokan sementara
memandangi villa putih dirobohkan
atas nama pembangunan kembali
dengan semboyan "kepemilikan adalah kebanggaan!",
kulamunkan istana ajaib muncul di atasnya
sekarang di mana gerangan kuletakkan kenanganku
yang telah lama kusimpan sebagai endapan airmata
ibarat cinta sarat beban
kenangan memang gangguan belaka
tapi aku masih luntang-lantung menyeret kenangan itu
mungkin aku makhluk terakhir zaman ini
sebentar lagi akan diseret ke museum
hewan langka di sebuah kota gersang
tanpa wujudku sendiri
betulkah ini tanah airku?
/5/
NASI DINGIN
bangkit dari badan sakitku
dan makan nasi dingin sendirian
duri embun beku menusuk tenggorokanku
ada cukup banyak peralatan listrik di dapur
cukup menekan tombol dan nasi hangat pun bisa didapat
jadi hampir tak perlu makan nasi dingin
tapi hari ini aku makan nasi dingin sendiri
mengenang seorang perempuan
yang rajin menanak nasi hangat untuk keluarganya
tapi dia sendiri selalu makan nasi dingin
lauknya sebatang lobak dan tulang ikan
sisa makan orang lain
dia ikhlas makan nasi dingin dari mangkuk yang retak
tapi tubuhnya selalu memancarkan cinta paling hangat
aku rindu suara-suara piring waktu larut malam
dan tangannya yang sepi
hari ini aku bangkit dengan badan sakitku
dan makan nasi dingin
Tuhan tidak dapat hadir di tiap rumah, katanya
jadi Tuhan mengirimnya ke rumah-rumah.
aku menjumpainya di dalam nasi dingin
yang kumakan sendiri
hari ini
aku jadi nasi dingin di dunia
Puisi-puisi di atas dikutip dari kumpulan puisi Perempuan yang Membuat Air karya Moon Chung Hee terbitan Kepustakaan Popular Gramedia, September 2014.
Langganan:
Postingan (Atom)



