Kamis, 03 Agustus 2017

Istiqlal

Senja tergelar di serambi Istiqlal.
Tiba kembali di tempat ini,
menikmati mahakarya Frederich Silaban,
masjid yang dibangun di atas reruntuhan benteng kolonial.
Sesekali terlihat juga burung lintas di udara
dalam lanskap awan dan langit di selatan.
Kududuk di sini menuguri waktu senja.
Menanti maghrib membentang di langit ibukota.


(Dimas Albiyan)


Minggu, 02 Juli 2017

Wiji Thukul dan Kata-kata yang Tak Kunjung Binasa

“Setiap kali kepala seorang sastrawan dipenggal, kebenaran dalam sastra itu akan menitis ke kepala seribu sastrawan lain.” (Seno Gumira Ajidarma)
“Aku masih utuh dan kata-kata belum binasa.” (Wiji Thukul)

      Wiji Thukul adalah sosok yang menarik dalam sejarah kesusastraan maupun perpolitikan di Indonesia. Sebagai seorang penyair, ia mungkin bukan yang paling cemerlang dalam dunia perpuisian di negeri ini. Akan tetapi sejarah telah mencatat namanya, sebagai seorang penyair sekaligus aktivis yang ikut berjuang melawan tindak kesewenang-wenangan sebuah rezim yang pernah berkuasa di negeri ini.
    Puisi-puisinya berkarakter khas: lugas, berani, dan mudah dipahami. Alih-alih berbicara tentang keindahan atau romantisme, puisi-puisi Wiji Thukul justru berbicara tentang kehidupan rakyat kecil, kemiskinan, perlawanan terhadap penindasan, dan persoalan hidup sehari-hari yang mungkin kerap luput dari pandangan kita.  
Wiji Thukul memang berasal dari keluarga rakyat kecil yang hidupnya lekat dengan kemiskinan. Ia tumbuh di Kampung Kalangan yang terletak di sisi timur kota Solo. Milieu kampung ini adalah pabrik-pabrik dengan segala buruhnya. Ayah Thukul seorang penarik becak, istrinya buruh menjahit, dan mertuanya pedagang barang rongsokan. Sementara Thukul sendiri pernah bekerja sebagai pelitur mebel.[1] Rupanya pengalaman hidup Thukul yang lekat dengan kemiskinan dan masyarakat lapisan bawah inilah yang lambat-laun mengendap dalam dirinya, dan kemudian ia tuangkan ke dalam puisi-puisinya.
Thukul muda tumbuh di tengah kekuasaan sebuah rezim bernama Orde Baru. Sebuah rezim otoriter, yang mana pada masanya kebebasan berpendapat menjadi suatu hal yang sangat mahal.  Demokrasi dibungkam, sementara praktik KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) merajalela di mana-mana. Kondisi negeri yang memperihatinkan ini bahkan juga diikuti oleh tindak kekerasan yang kerap dilakukan oleh militer terhadap rakyat sipil. Mari kita ingat kembali tragedi Tanjung Priok 1984, Lampung 1989, dan kasus Marsinah. Kondisi sosial negara seperti inilah yang menumbuhkan benih kesadaran dalam diri Thukul untuk melawan segala bentuk tindak kesewenangan itu.  Kesadaran yang kemudian juga diikuti dengan lahirnya sejumlah puisi Thukul yang memotret tentang kemiskinan, penindasan, ekploitasi buruh di pabrik, ketidakadilan hukum, tindakan represif penguasa, dan kekerasan militer terhadap rakyat sipil.
Wiji Thukul tidak sekedar berjuang melalui kata-kata. Bersama kelompok seninya, ia juga kerap menggelar pementasan teater yang mengekspresikan penindasaan dan problem riil masyarakat. Intensitas keterlibatannya dalam berbagai aksi protes juga semakin tinggi. Represi pun mulai meningkat. Tak jarang pentas-pentas teaternya dibubarkan oleh aparat. Rumahnya beberapa kali digeledah. Bahkan, dalam sebuah aksi protes buruh P.T. Sritex di Solo pada tahun 1995, ia mengalami siksaan berat dari aparat sampai telinganya nyaris tuli dan matanya sempat dioperasi.[2] Kala itu aparat mengincar Thukul karena ia diduga sebagai dalang demonstrasi tersebut. Segala bentuk tindakan represi yang Thukul terima itu ternyata tidak membuat semangat perlawanannya menjadi surut. Sebaliknya, itu semua justru membuat keyakinannya semakin kuat untuk melawan segala tindak kesewenangan yang telah ia saksikan dan alami sendiri.
Melalui aksi protes dan puisi-puisinya, Wiji Thukul telah memilih jalan hidupnya sendiri, yakni berjuang melawan segala bentuk penindasan yang dilakukan oleh penguasa Orde Baru terhadap rakyatnya. Sebuah pilihan yang akhirnya membuat ia mendapatkan cap sebagai musuh penguasa dan dianggap sebagai pemberontak. Tentu ini sebuah pilihan yang tak mudah, yang juga harus dibayar mahal olehnya. Ia lantas menjadi korban praktik penghilangan orang. Bersama dengan sejumlah aktivis lainnya, ia menjadi korban penculikan pada tahun 1998 yang dilakukan oleh rezim kala itu.
Wiji Thukul sendiri sampai saat ini tidak diketahui keberadaannya, entah masih hidup atau tidak. Jika dikatakan sudah meninggal, sampai sekarang jasadnya pun belum diketemukan. Ia dilaporkan hilang oleh istrinya, Sipon, setelah tragedi krisis 1998. Banyak kerabat Thukul yang yakin, bahwa Thukul sudah dilenyapkan oleh rezim Orde Baru, yang kadung mencapnya sebagai seorang musuh yang dianggap hendak menjatuhkan penguasa.
Akhirnya, keberadaan Wiji Thukul hingga saat ini terus menjadi misteri yang tak terungkapkan. Usaha pemerintah untuk mengungkap kasus yang melibatkan Thukul sebagai korban itu pun tak jua dilakukan. Thukul hilang meninggalkan istrinya, Sipon dan dua orang anaknya, Fitri Nganti Wani dan Fajar Merah.
“Setiap kali kepala seorang sastrawan dipenggal, kebenaran dalam sastra itu akan menitis ke kepala seribu sastrawan lain," begitu ujar Seno Gumira Ajidarma dalam kumpulan esainya, Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara. Barangkali hal yang demikian ini terjadi pada diri Wiji Thukul. Jasad Thukul boleh dilenyapkan, akan tetapi karya dan semangat perlawanannya terus hidup hingga saat ini. Ia terus menitis ke kepala setiap orang yang mengkhidmati puisi-puisinya dan meresapi perjuangannya. Dengan kata lain, Wiji Thukul terus tumbuh dan tetap utuh, seperti yang pernah ia katakan dalam sebuah puisinya: “Aku masih utuh dan kata-kata belum binasa!"

Tanjung Priok, 1 Juli 2017
Dimas Albiyan




      [1]   Ton, “Penyair Wiji Thukul, Pemotret Kemiskinan dan Kekejaman”, (Jakarta: Warta Kota, Tahun II nomor 82, Minggu, 30 Juli 2000), h. 10.
    [2] Ihs, ”Wiji Thukul Benih yang Terus Tumbuh”, (Jakarta: Pembebasan Edisi 18/V/Juli 2000), h.20  

Rabu, 07 Juni 2017

Malahayati

Di Teluk Lamreh Krueng Raya,
dengan gagah
Puan jaga bumi darussalam tercinta.
Laut Malaka pun berkobar
dalam jiwa bahari Puan
menanti penjajah menyerang di hadapan.

Bergelar laksamana,
Puan adalah kemala kehidupan.
Di belakang Puan,
pekik 2000 prajurit inong balee
isyaratkan geletar pertempuran.

“Ayo! Serang lawan!!!”
Dengan rencong di tangan,
pekik Puan memekakkan arena perang.

Maka angkasa pun gemetar
hingga tersiarlah sebuah kabar
ihwal armada musuh yang menggelepar
dengan pemimpin mereka
yang tewas terbunuh di geladak kapal.

Di bumi darussalam tercinta,
Puan membaktikan diri,
mengabdi
atas nama rakyat, tanah air, dan leluhur di surga.
Puan membaktikan diri,
mengabdi
dengan sepenuh cinta
seharum bunga cempaka.

Dimas Albiyan
20 April 2014

*Laksamana Malahayati:
Nama lengkapnya adalah Keumalahayati. Beliau adalah perempuan pejuang sekaligus perempuan pertama yang diangkat menjadi laksamana di Kesultanan Aceh Darussalam,  serta memimpin 2000 prajurit Inong Balee. Pada Juni 1599, di Aceh  terjadi pertempuran antara Kesultanan Aceh dengan armada Belanda yang dimpin oleh Cornelis De Houtman. Kala itu Laksamana Malahayati ditunjuk sebagai pemimpin perlawanan yang berujung pada kemenangan Kesultanan Aceh dan kekalahan armada Belanda yang disertai dengan terbunuhnya Cornelis De Houtman.
**Teluk Lamreh Krueng Raya: Pangkalan militer Laksamana Malahayati beserta armada perangnya.
***Inong Balee: Armada perang yang dipimpin oleh Laksamana Malahayati yang beranggotakan 2000 prajurit perempuan.


Selasa, 30 Mei 2017

Puisi "White Fields" Karya James Stephens (Terjemahan)

James Stephens

WHITE FIELDS 

Tibalah musim dingin, aku pergi 
berjalan menyusuri padang salju yang sunyi. 

Tak sehelai rumput hijau terlihat. 
Di atas kepala, langit adalah dinding yang likat. 

Setiap pohon dan pagar 
terselimuti warna putih yang tegar. 

Terarahkan jalan yang kulalui sewaktu tiba 
−semuanya tampak sama. 

Nun di seberang padang ini 
jejak-jejak keperakanku meniti. 

Aku yakin mama selalu mengenali 
jejak-jejak yang kutinggalkan di atas salju sunyi, 

Mama selalu mengetahui
ke mana anaknya ini akan pergi. 

−Terjemahan oleh Dimas Albiyan−


Catatan:
            Saat sedang iseng membuka kolom catatan Facebook saya beberapa minggu yang lalu, saya menemukan terjemahan puisi ini. Puisi “White Fields” karya James Stephens yang saya coba terjemahkan sekitar tahun 2014. Saya pun jadi teringat, waktu itu, saya memang sedang senang-senangnya belajar menerjemahkan puisi asing setelah membaca salah satu tulisan dari Sapardi Djoko Damono. Saya lupa di mana saya membaca tulisan itu. Saya cuma ingat, di tulisan tersebut, Sapardi kurang-lebih mengatakan, bahwa salah satu cara belajar menulis puisi yang efektif adalah dengan cara menerjemahkan puisi asing.
Maka saya ikuti tips dari beliau itu. Lantas saya pergi ke perpustakaan kampus untuk mencari buku-buku kumpulan puisi berbahasa Inggris dan meminjamnya beberapa buah. Perihal buku-buku kumpulan puisi berbahasa Inggris yang saya pinjam ini saya lupa-lupa ingat. Seingat saya ada antologi puisi Anna Akhmatova (penyair asal Rusia) dan antologi puisi Denmark modern. Kedua buku ini adalah buku terjemahan yang diterjemahkan dari bahasa aslinya ke dalam bahasa Inggris. Saya juga agak lupa di buku yang mana saya menemukan puisi “White Fields” karya James Stephens ini. Kalau tidak salah sih di sebuah buku yang judulnya American Modern Poems. Ya, kalau tidak salah.
Lantas dengan bermodalkan kemampuan berbahasa Inggris yang pas-pasan dan dibantu dengan sebuah kamus, saya pun mencoba menerjemahkan beberapa puisi berbahasa Inggris dari buku-buku yang saya pinjam itu. Cara saya memilih puisi-puisi mana yang akan saya terjemahkan sederhana saja, yakni puisi yang pendek, kata-katanya tidak terlalu rumit, dan saya suka. Ternyata puisi “White Fields” karya James Stephens ini menjadi salah satu puisi yang memenuhi “kriteria” tersebut, dan saya pun mencoba mengalihbahasakannya ke dalam bahasa Indonesia sebisanya.
Jika dibandingkan antara hasil yang saya coba terjemahkan ini dengan puisi yang asli (yang ditulis dalam bahasa aslinya), maka akan ditemukan cukup banyak perbedaan di antara keduanya. Ada beberapa kata dan baris yang terjemahannya tidak persis sesuai dengan yang asli, beberapa kata saya tukar letaknya, bahkan saya menambahkan satu larik di bagian akhir puisi ini. Semua itu saya lakukan selain karena memang penguasaan bahasa Inggris saya yang kurang memadai, juga karena untuk mengejar bentuk pengucapan dan rima yang menurut saya enak (walaupun mungkin menurut orang yang membacanya tidak).
Di samping dua hal tersebut, ada alasan lain yang membuat saya tetap “nekat” mencoba menerjemahkan puisi “White Fields” ini ke dalam Bahasa Indonesia, meskipun dengan kemampuan yang seadanya dan ada beberapa bagian yang berbeda dengan aslinya. Alasan itu adalah sebuah pernyataan Sapardi dalam bukunya yang berjudul Sastra Bandingan. Di salah satu bab yang membahas seputar penerjemahan karya sastra, Sapardi mengatakan bahwa penerjemahan karya sastra tidak usah dianggap sebagai usaha mati-matian untuk menjadi karya yang sama dengan aslinya (Editum, 2009: h. 96). Pendapat Sapardi itulah yang mendorong saya untuk tetap mencoba menerjemahkan puisi ini sebagai proses belajar menulis puisi meskipun mungkin hasilnya tidak terlalu persis dengan yang aslinya..
Dari proses belajar menerjemahkan ini, saya mendapati sebuah kenyataan, bahwa ternyata proses menerjemahkan puisi asing itu cukup sulit. Saya setuju dengan pendapat bahwa orang yang melakukan penerjemahan karya sastra harus menguasai bahasa sumber dan bahasa target sama baiknya. Di samping itu,  ia juga harus memahami konteks bahasa, sosial, dan budaya yang terkandung dalam karya itu. Dari kedua kriteria di atas sudah jelas bahwa saya sebenarnya sangat tidak layak dan pantas untuk menerjemahkan puisi ini. Tapi yah namanya juga belajar. Terjemahan puisi ini pun bagian dari proses belajar saya itu. Jadi, jika ditemukan banyak kekeliruan dan kekhilafan dalam penerjemahan ini, mohon dimaafkan, ya....
Sebagai penutup, ini saya kutipkan puisi “White Fields” karya James Stephens dalam bahasa aslinya. Menurut saya, puisi ini adalah sebuah puisi yang indah dan merupakan salah satu puisi favorit saya.
Akhir kata, selamat menikmati!
Salam.

-Tj. Priok, 23 Mei 2017-

White Fields
I
In the winter time we go
Walking in the fields of snow;

Where there is no grass at all;
Where the top of every wall,

Every fence, and every tree,
Is as white as white can be.

II
Pointing out the way we came,
-Every one of them the same-

All across the fields there be
Prints in silver filigree;

And our mothers always know,
By the footprints in the snow,

Where it is the children go. 




Rabu, 21 Desember 2016

Dua Puisi Saya: Dimuat di Surat Kabar Pikiran Rakyat Edisi 18 Desember 2016

/1/
Bandung, 2016

Ada kesenyapan yang asing
di kota tempatmu tumbuh beranjak
menjadi kupu-kupu dewasa.
Langit dan maghrib berkelindan,
jalanan menjelma sungai cahaya
dalam pelukan musim yang dingin dan muram.
Ada sepatah ucapan “selamat tinggal”
yang ingin namun tak sanggup kuucapkan.
Ada nyeri yang tak tertafsirkan
bermukim di degup jantung yang temaram.
Di jalan pulang, kucatat sunyi ini kembali
yang berkisar antara bayangmu
dan kota yang kian balam.
Di jalan pulang,
di antara muram lampu jalan dan kendaraan,
kusembunyikan rindu ini kembali,
meninggalkan jejakmu jauh di selatan.

/2/
Lagu Musim Sunyi

Musim yang sunyi. 
Langit tenteram di dini hari.
Kau berkata, "tiba waktunya untuk kembali"
entah kepada siapa.
Fajar jauh. Cahaya jauh.
Angin Juni melintas di beranda.
Dan kau masih terjaga,
menafsirkan impian dan keresahan manusia
di antara keheningan kata-kata.






Senin, 05 Desember 2016

Tiga Puisi di Pertemuan Kecil

Tiga puisi ini dimuat di surat kabar Pikiran Rakyat dua tahun yang lalu, tetapi saya baru tahu mengenai pemuatannya dua hari yang lalu, saat melihat sebuah pesan di kotak masuk surel yang belum saya baca.
Pada Minggu siang, saya tengah mencari alamat surel sepupu saya di kotak masuk untuk sebuah keperluan, ketika melihat sebuah pesan yang belum saya baca. Pesan itu ternyata dari redaksi Pikiran Rakyat yang dikirim pada 25 September 2014, dua tahun yang lalu. Isi pesan itu adalah sebuah pemberitahuan, bahwa jika tidak ada halangan, tiga buah puisi saya akan dimuat di surat kabar tersebut pada edisi Minggu, 28 September 2014 dalam rubrik Pertemuan Kecil. Tentu saya terkejut ketika membacanya. Saya pun jadi teringat kalau saya pernah mengirim beberapa puisi ke surat kabar itu sekitar dua tahun yang lalu. Saya mengirimnya lewat surel di sebuah warnet di samping kampus.
  Oleh karena saya penasaran ingin melihat apakah benar ketiga puisi saya dimuat, saya mencoba mencari file PDF surat kabar Pikiran Rakyat edisi 28 September 2014 tersebut di Google, dan alhamdulillah ketemu. Sebagaimana isi pesannya, ketiga puisi itu dimuat di rubrik Pertemuan Kecil, halaman 23.
Bisa melihat puisi yang saya tulis dimuat di koran, saya hanya bisa bersyukur, dan mudah-mudahan ini bisa menjadi pelecut semangat saya untuk terus menulis, dan terus menulis.

***


/1/
Hikayat Mahabrata: Bhisma

Pujangga
titahkan takdir
menjelma anak panah
dalam bidikan dara.

“Amba, kekasihku, aku sudah siap.
Bunuhlah aku sekarang!”

Tetapi dara itu menjadi sedikit ragu.
Ia tatap lekat-lekat
kedua mata Bhisma yang pasrah –
yang ia rasakan seperti sebuah lorong dejavu
atau mungkin sebuah kisah cinta platonik
yang tak pernah tertakdirkan.

“Aku masuki kecamuk Baratayuda ini
memang untuk membunuhmu.
Tetapi maaf, Tuan! Aku bukan Amba,
aku Srikandi!”

Lirih, Bhisma tersenyum,
sedang  dara itu kembali bersiap
membidik anak panahnya
tepat ke arah jantung Bhisma.

“Jika engkau memang benar-benar lupa,
maka kumohon
anggap saja sekarang dirimu adalah Amba kekasihku,
agar aku tenang
menjemput getirnya mautku.
Maafkan aku, Amba,
yang dulu pernah mencampakkanmu!
Maafkan aku!
Sesungguhnya,
aku sangat ..................
.....................................”

Langit Kurusetra
merah dan kelam.
Lirih, Bhisma tersenyum menatap dara
sebelum tubuh rentanya
tumbang.

(2014)


/2/
Hikayat Ramayana: Sinta kepada Rama

Sebab akulah api
maka jangan engkau menyentuhku lagi,
wahai lelaki yang menamakan dirinya suci!

Memang engkaulah
yang telah membebaskan aku dari Dasamuka,
tetapi engkau pula
yang telah memaksakan aku menjelma api
dengan keraguanmu yang menjadi-jadi.

Engkau mencintai aku.
Aku lebih mencintai engkau.
Tapi jangan engkau menyentuhku lagi,
sebab akulah api! 
(2014)


/3/
Percakapan Rama dengan Lesmana

“Akan kutempuh Gunung Reksamuka, Negeri Alengka,
bahkan Nirwana,
untuk kembali bisa menyentuhmu,
Sinta.”

Begitulah,
kesatria itu terus bergumam--
dengan intonasi yang muram
seperti elegi yang kelam

sepanjang malam.
Sementara hutan pun semakin dalam.
Sepotong bulan
adalah lentera yang temaram.

Mereka terus jalan.
“Tapi, Lesmana, wahai adikku,
apakah Sinta masih mau menerimaku,
lelaki peragu yang telah membiarkannya pergi
ke sisi Rahwana?

Dan apakah aku harus mengalahkan Rahwana musuhku,
untuk kembali dalam dekapan Sinta,
sekalipun harus dengan peperangan akbar
yang menumbalkan jutaan nyawa?”

“Maafkanlah kelancanganku, Kanda Ramawijaya,
sesungguhnya,  musuh sejatimu – yang harus kaukalahkan
bukanlah Rahwana,
tetapi tidak lain adalah keragu-raguanmu,

sedang  di sisi lain, Dewi Sinta
tak pernah sedikitpun meragukanmu.”

(2013-2014)



Rabu, 06 Juli 2016

Kwatrin Hari Lebaran

/1/
KWATRIN MENJELANG LEBARAN

Lebaran mulai menyingkapkan semarak sosoknya
di tengah gejolak pemilu yang belum ketemu ujungnya.
Berbondong orang meninggalkan gempita ibukota,
menuju dekapan desa yang nyaman dan bersahaja.

Tj. Priok, 26 Juli 2014

/2/
MALAM TAKBIRAN

Lengkingan takbir menjalar sampai ke sulur-sulur gang,
seusai sidang isbat dan awal Syawal ditetapkan.
Di serambi masjid, anak-anak menabuh beduk dengan riang.
Di rumah, para ibu menyiapkan opor dan ketupat lebaran.

/3/
KWATRIN HARI LEBARAN

Genta takbir mengudara dari menara masjid.
Tumpah manusia di gang-gang pemukiman kota.
Matahari menyaksikan dari ufuk timur langit:
Bani Adam saling berpeluk penuh bahagia.

/4/
ZIARAH LEBARAN

Di perut kubur, riwayat tak menjadi tilas.
Silsilah darah yang mengucur di nadi kami.
Doa-doa dirapalkan, seiring daun-daun yang melaras.
Semoga engkong dan nenek bahagia, dalam dekapan bumi.

Tj. Priok, 29 Juli 2014

*Puisi-puisi ini saya tulis pada suasana Lebaran dua tahun lalu.